Kasatpol PP DKI Ungkap 35 Anggota Meninggal Akibat Beban Kerja

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi, mengungkapkan kekhawatiran atas tingginya angka kematian anggotanya akibat beban kerja yang berat saat melakukan rapat bersama Komisi A DPRD Jakarta di Gedung DPRD Jakarta Pusat pada Kamis (23/4/2026). Satriadi mencatat sebanyak 35 personel meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari satu tahun masa jabatannya.

Data yang dilaporkan tersebut menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena jumlahnya hampir menyamai angka kematian tahun sebelumnya yang mencapai 42 orang. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, Satriadi menekankan perlunya penyediaan fasilitas istirahat bagi personel yang bertugas di tingkat kelurahan untuk menjaga kesehatan para anggota.

"Terkait dengan sarana prasarana yang ada di kantor kelurahan, Pak. Ini juga menjadi perhatian kita. Saya menjadi kasat Pol PP hampir setahun, Pak. Jadi sudah hampir anggota saya 35 orang meninggal dunia. Dan ternyata perbandingannya sama dengan tahun sebelumnya 42 orang," kata Satriadi, Kasatpol PP DKI Jakarta.

Kekurangan jumlah personel di lapangan disebut menjadi faktor utama yang memicu jam kerja berlebihan bagi para petugas. Kondisi ini membuat anggota terpaksa bekerja melampaui durasi normal untuk menutupi kebutuhan pengamanan di wilayah masing-masing.

"Jadi memang bukan karena Kasatnya, Pak, tapi karena memang kondisionalnya yang beban kerja dan sarana prasaranya yang luar biasa. Anggota Satpol PP itu ada yang sampai kerja sampai 36 jam. Karena jumlah personilnya, dengan tadi Pak Dadi juga sampaikan, di wilayah kok nggak ada kelihatan Satpol PP," ujar Satriadi.

Satriadi menjelaskan bahwa di setiap kelurahan hanya terdapat sekitar 7 hingga 10 personel Satpol PP. Keterbatasan sumber daya manusia tersebut berdampak langsung pada jadwal piket yang tidak sebanding dengan ketersediaan tempat beristirahat yang mumpuni di kantor pemerintahan tersebut.

"Karena anggota Satpol PP di setiap kelurahan itu hanya berjumlahnya sekitar 7-10 orang. Nah dia, kenapa kita lakukan 36 jam? Karena beban kerjanya dengan jumlah personilnya tidak sebanding, Pak. Jadi apalagi tidak ada tempat istirahat yang cukup, yang mumpuni di kantor kelurahan," lanjut Satriadi.

Meskipun beban kerja masih sangat tinggi, Satriadi mengapresiasi dukungan anggaran yang diberikan untuk logistik personel. Ia menyebut pemberian jatah makan dan minum saat piket telah memberikan dampak positif terhadap moral anggota di lapangan.

"Dan terima kasih, Pak, ini apresiasi yang luar biasa dari anggota Satpol PP buat komisi A mendukung makan minum piket, Pak. Bagi anggota kami yang sekarang sudah, Alhamdulillah, mereka sudah senang banget dapat makan minum aja untuk piket. Itu luar biasa," ucap Satriadi.

Namun, kendala kesehatan fisik tetap membayangi karena para petugas tidak memiliki ruang privasi untuk memulihkan tenaga. Selama ini, anggota yang bertugas 24 jam terpaksa memanfaatkan area seadanya di kantor kelurahan untuk memejamkan mata sejenak.

"Cuman nggak ada tempat istirahatnya, Pak, di kantor kelurahan. Padahal mereka jaga 24 jam di kantor kelurahan. Nggak ada tempat yang buat istirahat mereka. Itu juga menjadi kendala. Nah sekarang masih numpang di musala, kadang-kadang di lorong, di ini. Ya, apa, bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik besoknya untuk melakukan penertiban? Pasti tensinya kan tinggi-tinggi semua," kata Satriadi.

Hasil pemeriksaan kesehatan rutin menunjukkan bahwa banyak personel mengalami masalah tekanan darah tinggi yang signifikan. Satriadi pun mengusulkan adanya penyesuaian sistem kerja yang lebih manusiawi demi menjaga stamina anggota agar tetap optimal saat bertugas.

"Makanya kemarin kami melakukan cek, medical check-up, ternyata tensi darah, tensi tingginya luar biasa. Nah itu mungkin mohon Bapak Ibu Komisi A bisa memperhatikan kami. Karena saya juga mengalami kayak seperti damkar kan satu hari piket, dua hari libur," jelas Satriadi.

Satriadi menutup penyampaiannya dengan meminta dukungan penuh dari legislatif untuk pengadaan sarana dan prasarana di kantor kelurahan. Hal ini dianggap mendesak guna mencegah bertambahnya jumlah korban jiwa di lingkungan Satpol PP DKI Jakarta.

"Jadi ada apa namanya, yang sifatnya ya menjaga stamina lah kemanusiaan itu. Makanya kami minta tolong dukungan dari para anggota ketua dan anggota Komisi A untuk perhatian terkait dengan sarana prasarana tempat istirahat di anggota Satpol PP di kantor kelurahan," imbuh Satriadi.