Kasus Penyakit Kulit di Pengungsian Gaza Meningkat Tiga Kali Lipat

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Kasus infeksi kulit di kamp-kamp pengungsian Jalur Gaza dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir akibat kepadatan penduduk dan sanitasi yang buruk pada Rabu (6/5/2026). Kondisi ini memicu peringatan dari PBB mengenai munculnya krisis kesehatan masyarakat baru di tengah kenaikan suhu cuaca.

Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat bahwa lingkungan yang kotor menjadi tempat berkembang biaknya penyakit seperti kudis dan cacar air, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak oleh penyebaran wabah ini di wilayah tersebut.

Kekhawatiran meningkat seiring datangnya musim panas yang dapat memperparah situasi medis di lapangan. Pada tahun 2024, setidaknya 150.000 warga Gaza menderita penyakit serupa akibat minimnya pasokan alat medis yang terhambat oleh blokade dan konflik bersenjata.

Fawzi al-Najjar, seorang pengungsi Palestina, menggambarkan kondisi memprihatinkan di lokasi tempat tinggalnya yang berdekatan dengan area pembuangan sampah.

"Kami telah mencari di seluruh wilayah Jalur Gaza; wilayah itu penuh dengan pengungsi," kata Fawzi al-Najjar, seorang pengungsi Palestina.

Najjar mengeluhkan kondisi lingkungan yang tidak layak serta banyaknya hama yang berkeliaran di sekitar tenda pengungsian.

"Ada satu juta orang yang berdesakan. Dan kami datang ke sini untuk tinggal di atas tempat pembuangan sampah. Ini masalah besar. Apa yang harus kami lakukan? Anjing, kucing, kutu, dan tikus... lihat tangan saya!" katanya Fawzi al-Najjar, seorang pengungsi Palestina.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric dalam pernyataannya mengonfirmasi bahwa tim di lapangan terus memantau perburukan situasi kesehatan di lokasi-lokasi pengungsian.

"Tim di lapangan mengatakan bahwa hama dan infeksi kulit di antara penduduk Gaza masih meningkat," kata Stephane Dujarric, Juru bicara PBB.

Dujarric menambahkan bahwa peningkatan tajam ini secara signifikan terdeteksi pada fasilitas pengungsian yang berada di bawah pengelolaan organisasi internasional.

"Pada bulan Maret, infeksi semacam itu meningkat lebih dari tiga kali lipat di lokasi pengungsian yang dikelola PBB," kata Stephane Dujarric, Juru bicara PBB.

Hingga saat ini, pembatasan impor peralatan medis penting masih diberlakukan oleh pihak Israel meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak akhir tahun lalu.