Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia atau 184 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah titik akibat pengaruh gangguan atmosfer global dan lokal.
Dilansir dari Detikcom, prakirawan cuaca BMKG Wahyu Argo menjelaskan bahwa transisi menuju musim kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi serentak di seluruh wilayah. Wilayah yang diprediksi mulai kering pada periode Mei II-III mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Bali, hingga sebagian Papua.
"Sementara itu, curah hujan pada periode Mei hingga Oktober 2026 secara umum diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah," ujar Wahyu, Selasa (5/5/2026).
Pihak BMKG mengidentifikasi adanya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) pada fase 2 serta gelombang Rossby Ekuatorial yang memicu pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia. Fenomena ini menyebabkan cuaca dapat berubah drastis dari panas terik menjadi hujan deras dalam waktu singkat.
"Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang masih terjadi di wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, dipengaruhi oleh kombinasi faktor atmosfer skala global, regional, dan lokal," ucap Wahyu.
Wahyu menambahkan bahwa kelembapan udara yang masih tinggi memperkuat labilitas atmosfer lokal sehingga pertumbuhan awan konvektif menjadi sangat cepat. Hal ini menjelaskan mengapa hujan lebat tetap turun meski sebagian wilayah sudah berada di ambang musim kemarau.
"Kondisi tersebut diperkuat oleh kelembapan udara yang masih cukup tinggi serta labilitas atmosfer lokal, sehingga awan konvektif dapat tumbuh cepat dan menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, meskipun sebagian wilayah telah mulai memasuki periode awal musim kemarau," terangnya.
Pola cuaca transisi ini biasanya ditandai dengan pemanasan matahari yang kuat pada pagi hingga siang hari yang memicu penguapan besar. Wahyu memperingatkan bahwa durasi hujan yang terjadi pada masa peralihan ini cenderung singkat namun memiliki intensitas yang kuat.
"Jika pada saat yang sama atmosfer masih cukup lembap dan labil, serta didukung oleh gangguan atmosfer, hujan sedang hingga lebat dapat terjadi dalam durasi relatif singkat. Kondisi ini tidak selalu merata di seluruh wilayah dan waktunya dapat berbeda-beda, bergantung pada dinamika atmosfer harian," kata Wahyu.
Selain faktor atmosfer, BMKG juga memantau kemunculan bibit siklon tropis 92W di Samudra Pasifik Utara Papua sejak 4 Mei 2026 pukul 01.00 WIB. Bibit siklon ini terpantau bergerak ke arah barat dengan potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu dekat.
"Bibit Siklon Tropis 92W mulai terbentuk pada 04 Mei 2026 pukul 01.00 WIB di dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta," tulis BMKG.
Lembaga tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak tidak langsung dari bibit siklon ini dalam 24 jam ke depan. Peringatan kewaspadaan berlaku hingga tanggal 6 Mei pukul 07.00 WIB terkait potensi cuaca buruk di wilayah terdampak.
"Posisi berada di sekitar Samudra Pasifik utara Papua. Dalam 24 jam ke depan peluang Bibit Sikon Tropis 92W untuk berkembang menjadi siklon tropis rendah dan bergerak ke arah barat," tulis BMKG.
Dampak yang mungkin dirasakan meliputi peningkatan kecepatan angin serta gelombang laut yang lebih tinggi di wilayah perairan tertentu. Masyarakat diminta untuk terus memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi guna menghindari risiko bencana hidrometeorologi.
"Dampak tidak langsung dalam 24 jam ke depan hingga 06 Mei 2025 pukul 07.00 WIB berupa hujan sedang hingga lebat, angin kencang, gelombang laut tinggi," tulis BMKG.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·