Di era digital saat ini, menggulir layar ponsel sebelum tidur telah menjadi kebiasaan yang sangat umum. Banyak orang awalnya hanya berniat mengecek pesan, melihat media sosial sebentar, atau membaca berita singkat sebelum memejamkan mata. Namun, tanpa disadari, beberapa menit tersebut sering berubah menjadi satu jam atau bahkan lebih. Satu video memicu video berikutnya, satu berita membawa ke berita lain, hingga seseorang terus menggulir layar tanpa benar-benar menyadari waktu yang berlalu. Kebiasaan inilah yang kini dikenal dengan istilah doomscrolling.
Fenomena ini semakin sering dibicarakan karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Di tengah arus informasi yang terus bergerak cepat, banyak orang merasa perlu terus mengikuti perkembangan terbaru, bahkan menjelang waktu istirahat. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah doomscrolling sebelum tidur sekadar kebiasaan digital biasa, atau justru dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas istirahat?
Secara sederhana, doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi digital, terutama konten yang memicu emosi, rasa cemas, atau keinginan untuk terus mengetahui lebih banyak. Berbeda dengan sekadar scrolling santai, doomscrolling sering membuat seseorang sulit berhenti meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Salah satu dampak yang paling langsung adalah gangguan terhadap waktu tidur. Ketika seseorang terus terpapar layar hingga larut malam, waktu tidur menjadi mundur tanpa disadari. Padahal, tubuh memiliki ritme alami yang membantu mengatur kapan waktunya beristirahat. Kebiasaan menunda tidur karena terus scrolling dapat mengganggu ritme tersebut.
Selain faktor waktu, paparan layar sebelum tidur juga sering membuat otak tetap aktif. Konten yang dikonsumsi—baik berita, video, komentar, atau informasi lain—membuat pikiran terus memproses stimulus baru. Akibatnya, tubuh mungkin sudah lelah, tetapi pikiran belum benar-benar siap untuk beristirahat.
Hal ini menjadi lebih terasa ketika konten yang dilihat bersifat emosional, memicu kecemasan, atau membuat seseorang terus berpikir. Berita negatif, diskusi yang memancing emosi, atau informasi yang membuat khawatir dapat meningkatkan beban mental menjelang tidur.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin tetap berhasil tertidur, tetapi kualitas istirahat belum tentu optimal. Tidur bukan hanya soal memejamkan mata, tetapi juga tentang seberapa baik tubuh dan pikiran mendapatkan pemulihan.
Dari sisi kesehatan mental, doomscrolling juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Paparan informasi yang berlebihan, terutama yang bernuansa negatif atau membuat gelisah, dapat membuat seseorang merasa lebih tegang, cemas, atau lelah secara mental.
Selain itu, kebiasaan ini sering menciptakan ilusi bahwa kita harus terus mengetahui segala hal. Rasa takut tertinggal informasi (fear of missing out) dapat membuat seseorang terus memeriksa layar meskipun sebenarnya tidak ada kebutuhan mendesak.
Ironisnya, aktivitas yang awalnya dilakukan untuk “bersantai” justru bisa membuat pikiran semakin aktif dan sulit tenang. Ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk hiburan digital benar-benar membantu tubuh bersiap untuk tidur.
Kebiasaan doomscrolling juga sering berlangsung otomatis. Banyak orang tidak benar-benar merencanakannya. Ponsel dibuka sebentar, lalu waktu berlalu begitu saja. Karena sifatnya yang otomatis, kebiasaan ini sering sulit dihentikan tanpa kesadaran khusus.
Untuk mengurangi dampaknya, salah satu langkah sederhana adalah membatasi penggunaan layar menjelang tidur. Memberi jeda antara waktu terakhir menggunakan ponsel dan waktu tidur dapat membantu tubuh mulai memasuki fase istirahat.
Mengganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas yang lebih menenangkan, seperti membaca ringan, mendengarkan audio yang menenangkan, atau sekadar memberi waktu bagi pikiran untuk tenang, juga dapat membantu.
Pada akhirnya, teknologi memang memberikan akses informasi tanpa batas, tetapi tubuh dan pikiran tetap memiliki batas kebutuhan untuk beristirahat. Doomscrolling mungkin terasa seperti kebiasaan kecil yang tidak berbahaya, tetapi jika dilakukan terus-menerus, dapat memengaruhi kualitas tidur dan keseimbangan mental secara perlahan. Menyadari pola ini merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan di tengah kehidupan digital yang terus bergerak cepat.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·