Kecelakaan di Bromo Jadi Pengingat Penting soal Rem Blong

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Minibus yang membawa rombongan WN Singapura hilang kendali di Probolinggo, Sabtu (9/5). Foto: Dok. Polres Probolinggo

Kecelakaan beruntun terjadi pada Sabtu (9/5) yang melibatkan sejumlah kendaraan di jalur kawasan Gunung Bromo. Insiden bermula saat sebuah Toyota HiAce melaju di jalan menurun dan diduga hilang kendali hingga menabrak Toyota Rush dari arah berlawanan.

Benturan tersebut memicu tabrakan lanjutan yang melibatkan Renault Koleos serta satu unit Toyota HiAce lainnya. Akibat kejadian ini, sejumlah penumpang mengalami luka ringan dan harus mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan terdekat.

Ketua Paguyuban Jip Trans Bromo, Arlex Mardiyansyah, menilai kecelakaan di jalur tersebut umumnya dipengaruhi kombinasi kondisi medan dan kemampuan pengemudi. Ia menekankan pentingnya teknik berkendara yang tepat, terutama saat melintasi jalan menurun panjang.

“Lebih ke skill driver harus mumpuni kalau ke medan Bromo. Jadi di Bromo itu kalau difungsikan pengereman saja tidak maksimal karena membuat rem cepat panas dan tidak berfungsi,” kata Arlex kepada kumparan, Senin (11/5/2026).

Ilustrasi menggunakan rem kaki pada mobil. Foto: dok Istimewa

Ia menjelaskan, pengemudi berpengalaman biasanya tidak hanya mengandalkan rem, tetapi memanfaatkan teknik engine brake untuk membantu memperlambat laju kendaraan. Cara ini dinilai lebih aman untuk menjaga performa sistem pengereman.

“Tapi kalau pengemudinya sudah berpengalaman pasti akan memanfaatkan engine brake, nah teknik ini digunakan di gigi 1 dan gigi 2 untuk membantu pengeremannya seperti itu,” kata Arlex.

Untuk kendaraan bertransmisi otomatis, teknik serupa juga bisa diterapkan dengan memanfaatkan mode berkendara tertentu. Penggunaan gigi rendah menjadi kunci untuk mengurangi beban kerja rem.

“Sementara kalau yang mobilnya matik bisa menggunakan posisi S atau L, ataupun gigi transmisi paling rendahnya yang di matic,” jelasnya.

Sejumlah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berada di jalan depan Pos Jemplang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (7/9/2023). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Selain teknik berkendara, ia juga menyarankan pengemudi untuk tidak ragu beristirahat terlebih saat kondisi rem mulai terasa menurun. Hal ini penting untuk mencegah risiko rem blong akibat panas berlebih.

“Selain itu kalau dirasa sudah remnya dalam, mungkin perlu dilakukan pemberhentian sejenak di rest area,” ungkapnya.

Menurutnya, meski rest area resmi terbatas, pengemudi tetap bisa memanfaatkan titik-titik pemberhentian lain di sepanjang jalur. Keputusan untuk berhenti sangat bergantung pada kesadaran dan pengalaman pengemudi.

“Jadi itu tergantung driver-nya mau berhenti untuk mengistirahatkan remnya atau tidak,” tutupnya.

Ia menambahkan, selama kendaraan dalam kondisi prima dan pengemudi memahami teknik engine brake, perjalanan menuju Bromo seharusnya tetap aman untuk dilalui.