Kekhawatiran Inflasi Picu Penjualan Surat Utang Negara pada 13 April

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pada 13 April 2026, pasar obligasi di Indonesia mengalami tekanan jual seiring dengan kekhawatiran terhadap inflasi yang meningkat dan potensi kenaikan suku bunga. Kenaikan harga energi disebut-sebut sebagai penyebab utama. Perdagangan hari itu juga diwarnai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kenaikan imbal hasil SUN terjadi di hampir semua tenor, terutama di tenor 2 hingga 4 tahun yang mengalami kenaikan hingga 4,2 basis poin (bps). Kenaikan ini menandakan bahwa investor mulai meningkatkan premi risiko mereka. Demikian dilansir dari Bloomberg Technoz.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa pada tenor menengah 5 hingga 10 tahun, imbal hasil terus menanjak dan relatif stabil di atas 6,3%. Kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS menjadi faktor eksternal yang memperparah situasi tersebut. Sementara itu, inflasi Indonesia pada Maret tercatat berasal dari komponen energi sebesar 9,08% dan komponen harga barang yang diatur pemerintah 6,08%.

Di pasar mata uang, Rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa. Rupiah mencapai Rp17.135/US$ pukul 09:15 WIB. Pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SUN mengindikasikan peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek.

Kondisi inflasi juga diperburuk oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, yang melonjak 7,24%, dan memberi tekanan langsung pada biaya hidup sehari-hari. Pasar SUN merespons dengan aksi jual di tengah tuntutan premi risiko yang lebih tinggi, mengindikasikan ruang penurunan suku bunga yang kian sempit.

Kenaikan imbal hasil di pasar obligasi juga membawa konsekuensi terhadap biaya utang yang semakin mahal. Aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik terlihat melambat, meski belum sepenuhnya keluar. Investor global melakukan pembelian bersih harian sebesar US$10,6 juta pada pekan lalu.