Kemendikdasmen latih guru di 25 provinsi perkuat pendidikan inklusif

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTKPG) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan inklusif di Indonesia dengan melatih ribuan guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus di 25 provinsi.

"Program Pelatihan Pendidikan Inklusif ini adalah program yang kami selenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan guru profesional untuk mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti dalam peluncuran Program Pelatihan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 di SMPN 16 Jakarta, Senin.

Mendikdasmen mengungkapkan kebutuhan akan guru-guru yang profesional dalam mendidik anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu tantangan prioritas yang harus diselesaikan untuk mewujudkan pendidikan inklusif di Indonesia.

"Ini adalah program untuk para guru pendamping tingkat mahir. Nanti secara keseluruhan program ini akan terus kita laksanakan, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat semakin terlayani di sekolah-sekolah inklusi maupun juga mereka yang harus belajar di sekolah-sekolah luar biasa," lanjutnya.

Melalui kegiatan ini, Abdul Mu'ti berharap ke depan pihaknya dapat menciptakan layanan pendidikan inklusif berbasis masyarakat, di mana mereka yang tidak dapat belajar di sekolah inklusi dan juga tidak berkesempatan belajar di sekolah luar biasa kita berikan layanan pendidikan inklusif berbasis masyarakat.

Ia menyebut kegiatan tersebut telah berjalan di sejumlah titik dengan baik.

Baca juga: Kemendikdasmen ingatkan nilai TKA harus jadi instrumen evaluasi

"Kita berusaha untuk menjangkau yang tidak terjangkau bagi anak-anak kita, sehingga semua anak Indonesia sesuai dengan arahan Bapak Presiden dapat mendapat pendidikan yang bermutu," ucapnya.

"Mereka adalah anak-anak yang jika kita berikan pendampingan, insya Allah dapat menjadi sumber daya manusia Indonesia yang umur yang berkualitas. Ini adalah bukti pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan seumur untuk semua," tutur Abdul Mu'ti.

Sementara, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aliyah dalam kesempatan yang sama mengapresiasi Kemendikdasmen atas upaya ini dalam rangka mewujudkan pendidikan yang inklusif untuk semua kalangan.

Ia juga berharap ke depan berbagai sarana dan prasarana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus akan dapat terpenuhi dengan baik, dengan adanya jalur tunanetra, rampa kursi roda, dan lain sebagainya.

"Dengan adanya program ini mudah-mudahan segala kekurangan yang ada bisa terpenuhi. Memang tidak bisa semuanya, bertahap, tetapi ini adalah satu langkah yang luar biasa," ungkap Himmatul Aliyah.

Diketahui, Program Pelatihan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 saat ini memiliki kuota untuk 1.500 orang guru, di mana saat ini jumlahnya baru terisi sebanyak 60 persen.

Ke depan, program ini akan bergulir terus, dengan target rasio jumlah guru pendamping khusus sebesar 1:15, atau satu guru berbanding 15 peserta didik di seluruh sekolah inklusi di Indonesia.

Baca juga: TKA mandiri kolaboratif di PKBM wujudkan model ujian yang adaptif

Baca juga: Mendikdasmen: Persiapan TKA berbasis komputer capai tahap akhir

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.