KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) untuk menyiapkan lulusan sekolah menengah kejuruan yang siap bekerja di pasar tenaga kerja global. Program tersebut diluncurkan bersamaan dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus dan pelatihan yang akan bekerja di luar negeri.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan program itu menjadi salah satu arah baru pengembangan pendidikan vokasi. Menurut dia, lulusan SMK kini tidak hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri, tetapi juga kebutuhan pasar kerja internasional.
“Program ini sekaligus menjadi upaya untuk memenuhi hak konstitusi, di mana setiap warga negara berhak mendapat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan,” ujar Mu’ti dalam peluncuran program di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 20 Mei 2026.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) mulai dirancang sejak 2025 sebagai respons atas meningkatnya mobilitas tenaga kerja global. Ia menuturkan program tersebut menjadi jembatan bagi lulusan SMK untuk masuk ke pasar kerja internasional.
Dalam skema tersebut, siswa akan menempuh pendidikan reguler selama tiga tahun sesuai kurikulum nasional. Tambahan satu tahun diberikan untuk memperkuat kemampuan bahasa, pemahaman budaya kerja, hingga hukum dan perlindungan tenaga kerja di negara tujuan. “Bekerja di luar negeri tentu tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar hidup mandiri dan menjadi duta bangsa,” kata Tatang.
Menurut dia, saat ini program tersebut telah diterapkan di sedikitnya 49 SMK di berbagai daerah. Sekolah yang terlibat diharapkan dapat mengintegrasikan dimensi kebekerjaan luar negeri ke dalam kurikulum pendidikan mereka.
Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang Kusdarmadi menyebut tambahan satu tahun dinilai penting karena persiapan bekerja di luar negeri tidak cukup hanya melalui pendidikan reguler tiga tahun. Menurut dia, siswa membutuhkan penguatan bahasa, adaptasi budaya kerja, hingga kesiapan fisik dan mental.
Sekolahnya, kata Kusdarmadi, juga bekerja sama dengan TNI untuk melatih kedisiplinan dan ketahanan fisik siswa. Selain itu, sekolah menggandeng tim psikologi guna memperkuat kesiapan mental peserta didik yang ingin bekerja di luar negeri.
SMKS Muhammadiyah 1 Malang sendiri telah mengirim lulusan bekerja ke Jepang sejak 2019 di berbagai sektor, mulai dari pertanian, industri, hingga caregiver.
Hal senada disampaikan Kepala SMKN 1 Buduran Sidoarjo Agustina. Ia mengatakan minat siswa untuk bekerja di luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun persiapan siswa masih belum maksimal.
“Dengan adanya program ini, kami bisa benar-benar menyiapkan murid lebih awal. Sejak kelas 10 sudah bisa kami mulai,” ujar Agustina.
41 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·