INFO TEMPO – Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga penopang kehidupan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat. Bagi masyarakat Kawasi, sebuah desa di Pulau Obi, Maluku Utara, kebutuhan akan air bersih terus meningkat, baik itu untuk masyarakat sekitar maupun untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
Bukan tanpa sebab, desa yang berada di pesisir bagian barat Pulau Obi, Halmahera Selatan itu dikenal sebagai wilayah pesisir yang bersinggungan langsung dengan kawasan operasional pertambangan nikel. Oleh karena itu, menjaga kualitas dan ketersediaan air di Kawasi menjadi tanggung jawab bersama.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Perusahaan tambang Harita Nickel, yang salah satu kegiatan operasionalnya berada di Kawasi kemudian bekerja sama dengan pemerintah daerah membangun fasilitas konservasi air baku guna mendukung kebutuhan masyarakat di daerah Kawasi. Adapun pembangunan masih dalam tahap kontruksi.
“Saat ini kita melakukan pekerjaan fisik, proses pengolahan, tanki sudah siap termasuk penggunaan ozon juga,” kata Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, baru-baru ini.
Fasilitas konservasi itu dibuat seperti pengolahan air minum dalam kemasan. “Bedanya di sini dibagi antara air bersih dan air layak minum,” kata Tonny. Pembangunan pertama akan dibuat untuk air bersih terlebih dahulu. “Sebetulnya air bersih juga sudah layak minum. Tetapi nanti untuk penggunaannya akan ada tim sosialisasi yang akan mengedukasi bagaimana penggunaan air yang efisien.”
Nantinya, lanjut Tonny, sebanyak 25 meter kubik akan disupply untuk masyarakat. “Jumlah itu jauh dari cukup untuk kebutuhan masyarakat.”
Menurut dia, jika dihitung, kebutuhan air di desa saat ini sudah seperti kebutuhan air di kota. “Tinggi sekali,” ucap Tonny. Per harinya, lanjut dia, kebutuhan bisa sampai 120-150 liter per kapita. “Tetapi untuk kebutuhan dasar 80 liter per kapita per hari juga sudah bisa.” Tonny pun berharap pada pertengahan tahun, proyek konservasi air baku masyarakat dan air minum di daerah Kawasi sudah mulai bisa running.
Sementara itu, proyek yang dibangun bersama pemda ini juga membuktikan bahwa penambangan yang dilakukan di wilayah Kawasi itu tidak merusak mata air dan juga tidak mencemari tanah. “Dari awal kami melakukan penambangan tidak menyentuh daerah mata air,” kata dia. Bahkan, lanjut dia, wilayah mata air Kawasi mereka buat pagar agar tidak ada yang merusaknya.
Mata air Kawasi yang menjadi sumber air baku masyarakat saat ini dilindungi melalui pembangunan area konservasi dengan radius sekitar 200 meter dari titik sumber mata air.
Sementara untuk memastikan tidak adanya pencemaran dari tambang ke mata air, Harita Nickel mendatangkan ahli tanah dari Institut Teknologi Bandung (ITB). “Kami menaatinya sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR). Semua itu, kata Tonny, dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem serta keberlanjutan kualitas dan ketersediaan sumber air bagi masyarakat sekitar.
Harita Nickel pun mengajak masyarakat agar ikut menjaga air bersih untuk keberlanjutan. Dengan adanya keterlibatan masyarakat, maka akan tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Air di Kawasi adalah aset berharga yang harus dijaga bersama. Melalui kolaborasi antara Harita Nickel masyarakat, dan pemda, pengelolaan air dapat dilakukan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Upaya ini bukan hanya mendukung kebutuhan sehari-hari warga, tetapi juga memastikan keberlangsungan lingkungan di Pulau Obi untuk masa depan. (*)
33 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·