Kemenekraf dan mahasiswa kampanyekan fesyen berkelanjutan 

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) berkolaborasi bersama akademisi hingga pelaku industri menggaungkan transformasi industri fesyen yang berkelanjutan melalui kampanye edukasi publik.

“Di sinilah peran kita semua yang hadir di sini, pemerintah, akademisi, media, sampai penyedia ruang publik untuk memperkuat edukasi sebagai corong dalam isu ini. Generasi muda, sebagai kalangan yang mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu ini bisa memperkuat dampaknya, baik melalui media sosial maupun karya publikasi akademik,” ujar Plt. Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Romi Astuti dalam keterangan resmi yang diterima, Minggu.

Romi mengatakan Kementerian Ekraf sangat mengapresiasi program yang diinisiasi mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) melalui program Dressponsible Vol.2 yang mendorong kesadaran atas dampak fast fashion sekaligus mengajak masyarakat beralih ke konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Desain busana berkelanjutan dan masa depan ekraf Indonesia

Romi mengatakan program ini dapat menjadi ruang edukasi dan kampanye tren fesyen berkelanjutan seperti circular fashion, secondhand, capsule wardrobe. Dalam hal ini, Pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk fesyen.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas menjadi kunci dalam mempercepat transformasi menuju ekosistem fesyen yang berkelanjutan.

“Kementerian Ekraf terus mendorong penguatan narasi ini melalui berbagai ruang kolaborasi dan penguatan literasi publik,” ujarnya.

Baca juga: Kemenekraf apresiasi eksibisi fesyen dengan pendekatan berkelanjutan

Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta memandang subsektor fesyen sebagai salah satu penggerak penting ekonomi kreatif daerah.

Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Endrati Fariani mengatakan fesyen merupakan subsektor unggulan dengan kontribusi besar terhadap ekonomi kreatif DKI Jakarta dengan pertumbuhan ekonomi kreatif yang mencapai 6,6 persen, melampaui pertumbuhan PDRB sebesar 4,40 persen.

Kegiatan seperti Dressponsible Vol. 2 dapat mendorong penguatan talenta muda serta memperluas ruang kolaborasi dan promosi bagi kampanye fesyen berkelanjutan.

Baca juga: Taza gelar eksibisi imersif refleksikan fesyen secara berkelanjutan

“Ini menunjukkan potensi yang sangat kuat untuk terus dikembangkan. Karena itu, kami mendukung berbagai inisiatif, termasuk dari mahasiswa, sebagai ruang untuk mendorong inovasi serta pemanfaatan media dan ruang publik dalam mengampanyekan sustainable fashion,” katanya.

Dressponsible Vol. 2 mengusung pendekatan kampanye yang kreatif dan partisipatif melalui produksi iklan layanan bertajuk kampanye “Dibalik Tren” serta trunk show dari sejumlah jenama lokal seperti Arjun Putra, Allemonq, Adrie Basuki, dan Limittes yang menampilkan interpretasi fesyen berkelanjutan secara visual dan aplikatif.

Baca juga: Wamenekraf: RI berpeluang jadi pusat fesyen "modest" dan berkelanjutan

Sekretaris Program Studi Komunikasi LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa kampanye ini dirancang oleh para mahasiswa sebagai media edukasi yang aplikatif dan relevan dengan keseharian masyarakat.​​​​​​​

Kemenekraf menyebut gerakan seperti ini menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif tidak hanya ditentukan oleh tren, tetapi juga oleh kesadaran dan tanggung jawab.

Melalui pendekatan yang kolaboratif dan berbasis kreativitas, subsektor fesyen berpotensi menjadi the new engine of growth yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Teknologi, etika, dan masa depan industri fashion Indonesia

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.