Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan memfasilitasi pemulangan tiga pelaut Warga Negara Indonesia (WNI) yang terdampak insiden serangan misil terhadap kapal MV Gold Autumn di perairan Laut Arab. Ketiga pelaut tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu, 19 April 2026.
Sebagaimana dilansir dari Money, para pelaut yang dipulangkan adalah Adhelan Azhiz Fiqih, Robi Andika Saputra, dan Farhan Setio Budi. Kedatangan mereka disambut oleh perwakilan Ditjen Perhubungan Laut, perusahaan keagenan awak kapal, serta asosiasi pelaut untuk memberikan pendampingan lanjutan.
Insiden bermula pada 8 April 2026 pukul 11.00 waktu setempat saat MV Gold Autumn terkena serangan misil di ruang muat nomor 4 yang memicu kebakaran hebat. Serangan susulan terjadi 20 menit kemudian yang merusak area akomodasi dan anjungan kapal saat berlayar di Laut Arab.
Awak kapal sempat terombang-ambing di laut terbuka setelah mesin sekoci penyelamat mengalami gangguan saat proses evakuasi darurat. Mereka akhirnya diselamatkan oleh kapal MV Eunice sekitar pukul 19.30 waktu setempat dan dibawa menuju Karachi, Pakistan, untuk penanganan medis awal.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Samsuddin, menyatakan bahwa pemerintah memberikan respons cepat untuk menjamin pemenuhan hak-hak para pelaut tersebut. Koordinasi dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri dan KJRI Karachi guna menerbitkan kembali dokumen perjalanan yang hilang dalam insiden tersebut.
"Dalam situasi apapun, negara memastikan pelaut Indonesia tidak dibiarkan menghadapi risiko sendiri. Penanganan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan menyeluruh," ujar Samsuddin, Direktur Perkapalan dan Kepelautan.
Samsuddin menambahkan bahwa fokus penanganan tidak hanya berhenti pada proses evakuasi fisik dari lokasi kejadian. Pihak kementerian terus memantau tanggung jawab perusahaan pengelola kapal, Shanghai Defeng Shipping Co. Ltd, terhadap para kru.
"Penanganan ini tidak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga memastikan seluruh hak pelaut terpenuhi, mulai dari aspek keselamatan, administrasi, hingga tanggung jawab pihak terkait," ungkap Samsuddin, Direktur Perkapalan dan Kepelautan.
Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika risiko pelayaran internasional. Hal ini dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor guna melindungi warga negara yang bekerja di sektor maritim global.
"Penguatan sistem perlindungan pelaut Warga Negara Indonesia (WNI) akan terus ditingkatkan melalui pengawasan, koordinasi lintas sektor, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat," tegas Samsuddin, Direktur Perkapalan dan Kepelautan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·