Kemenkes: Hasil pemeriksaan WNA berkontak erat Hantavirus negatif

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Kondisi KE tidak bergejala, tetapi memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat vaping (rokok elektrik). Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan hasil pemeriksaan Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Indonesia dan berkontak erat dengan penumpang terjangkit Virus Hanta atau Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius negatif.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni dalam konferensi pers secara daring yang diikuti di Jakarta pada Senin menyampaikan pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB Indonesia menerima notifikasi dari International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) yang menyatakan seorang WNA laki-laki berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat berkontak erat dengan korban.

"Ia merupakan kontak erat dari kasus kedua (perempuan 69 tahun, meninggal) dan sempat satu penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg. Kondisi KE tidak bergejala, tetapi memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat vaping (rokok elektrik). Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus," katanya.

Namun demikian Andi menegaskan pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat dan saat ini yang bersangkutan masih berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Baca juga: Khawatir Hantavirus, penumpang sakit di kapal pesiar dievakuasi

Ia menambahkan Kemenkes telah merespons cepat kasus pada 8 Mei 2026 pukul 10.00 WIB dan langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, pelacakan riwayat perjalanan, hingga pemeriksaan kesehatan.

"Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak notifikasi, investigasi sudah dilakukan. Kondisi pasien sehat dan tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, pengamatan terus dilakukan agar pasien bisa kembali ke kediamannya untuk pencegahan lebih lanjut," ucap Andi.

Ia menegaskan petugas di Puskesmas Kecamatan Senen juga akan memantau secara berkelanjutan terkait pasien yang berkontak erat tersebut.

"Sesuai ketentuan isolasi kontak erat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harus dilakukan karantina dan monitoring aktif setiap hari, sebaiknya kontak erat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan melaporkan ke petugas kesehatan jika ada gejala," tuturnya.

Baca juga: Anggota DPR: Perkuat kewaspadaan akan hantavirus dengan sistem terpadu

Andi juga menyatakan agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat dalam klaster global berdasarkan laporan WHO, tiga orang meninggal dari kasus di kapal pesiar tersebut, dengan tingkat fatalitas atau case fatality rate 37,5 persen.

Kasus penularan Hantavirus bermula dari klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika. Virus yang teridentifikasi adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia.

Meski demikian Indonesia sejauh ini belum pernah melaporkan kasus HPS dan hanya mencatat infeksi Hantavirus tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991. Kemenkes juga menyatakan di Indonesia belum ada kasus penularan dari tikus ke manusia hingga saat ini.

Baca juga: Evakuasi terakhir penumpang kapal wabah hantavirus dilakukan Senin

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.