Kemenkes Ingatkan Tingkat Kematian Hantavirus Capai 50 Persen

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tingkat fatalitas yang signifikan pada penyakit Hantavirus yang kini menjadi perhatian dunia. Berdasarkan panduan kesehatan yang dirilis, risiko kematian akibat virus ini tergolong sangat tinggi pada jenis manifestasi klinis tertentu.

Dilansir dari Kompas, otoritas kesehatan mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ditemukan vaksin maupun obat spesifik untuk menangani infeksi virus yang ditularkan melalui tikus tersebut. Hal ini memicu alarm kewaspadaan bagi masyarakat luas.

Besarnya ancaman kematian akibat Hantavirus sangat bergantung pada jenis gejala yang dialami pasien. Kemenkes membagi risiko tersebut ke dalam dua manifestasi klinis utama yang menyerang organ berbeda.

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru memiliki potensi kematian tertinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 50 persen. Kondisi fatal ini umumnya dipicu oleh gagal napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru.

Sementara itu, Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal memiliki angka fatalitas lebih rendah. Risiko kematian tercatat sebesar 5-15 persen untuk infeksi virus tipe Hantaan, dan di bawah 1 persen pada tipe Puumala.

Pencegahan Sebagai Pertahanan Utama

Kemenkes menegaskan bahwa ketiadaan vaksin menjadikan kebersihan lingkungan sebagai satu-satunya tameng utama bagi masyarakat. Pengendalian populasi rodensia atau tikus menjadi kunci untuk memutus rantai penularan.

"Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah terpapar Hantavirus. Untuk mencegah terpapar Hantavirus, Anda dapat menerapkan upaya pengendalian rodensia dan pencegahan kontak dengan urine, tinja, dan air liur rodensia," ujar keterangan resmi Kemenkes.

Masyarakat diimbau melakukan langkah mandiri untuk memperkecil risiko infeksi. Tindakan pertama adalah menutup seluruh akses masuk tikus dengan memeriksa lubang sekecil apa pun di struktur bangunan rumah maupun kantor.

Langkah selanjutnya adalah memasang perangkap tikus di jalur-jalur yang sering dilewati hewan pengerat tersebut guna menekan populasi secara berkala. Selain itu, perlindungan terhadap bahan pangan sangat krusial agar tidak terkontaminasi.

Seluruh makanan dan minuman wajib disimpan dalam wadah kedap udara atau tertutup rapat untuk menghindari paparan air liur serta kotoran tikus. Kedisiplinan menjaga kebersihan kini menjadi langkah penyelamatan nyawa yang sangat mendasar.

Keberadaan tikus di lingkungan tempat tinggal tidak boleh disepelekan karena ancaman HPS yang mematikan. Penanganan medis yang cepat di fasilitas kesehatan sangat krusial melalui terapi suportif untuk meningkatkan peluang hidup pasien.