Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah merilis rincian gejala klinis penyakit Hantavirus yang perlu diwaspadai masyarakat guna menekan risiko fatalitas yang tinggi. Dilansir dari Kompas, pengenalan gejala secara dini menjadi faktor krusial dalam upaya menyelamatkan nyawa pasien yang terinfeksi.
Kemenkes menekankan bahwa gejala penyakit ini tidak muncul secara instan karena memiliki masa inkubasi yang bervariasi bagi setiap individu. Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan keluhan seperti demam atau nyeri otot, terutama pasca melakukan kontak dengan area yang menjadi habitat tikus.
Berdasarkan panduan resmi yang diterbitkan, gejala Hantavirus terbagi menjadi dua kondisi utama tergantung pada organ tubuh yang diserang. Manifestasi pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berfokus pada gangguan saluran pernapasan manusia.
Penderita HPS umumnya merasakan kelelahan, demam, serta nyeri otot yang hebat pada bagian punggung, bahu, panggul, dan paha. Fase ini dapat berkembang menjadi tahap kritis pada hari ke-4 hingga hari ke-10 setelah munculnya gejala awal.
Pasien akan mengalami batuk dan sesak napas akut akibat paru-paru yang terisi cairan, yang dikenal sebagai Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS). Kondisi ini sangat berbahaya karena berisiko mengganggu fungsi normal otot jantung.
Gangguan Ginjal pada Tipe HFRS
Jenis kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang secara dominan menyerang fungsi ginjal penderita. Gejala awalnya meliputi sakit kepala intens, menggigil, nyeri pada perut dan punggung, serta pandangan mata yang kabur.
Jika memasuki tahap yang lebih parah, penderita HFRS dapat mengalami syok akut, tekanan darah rendah, hingga pecah pembuluh darah. Gangguan ginjal akut menjadi ancaman serius bagi pasien yang berada pada fase lanjut infeksi ini.
Masa Inkubasi dan Penanganan Medis
Salah satu tantangan dalam mendeteksi virus ini adalah masa inkubasi yang tergolong lama, yakni antara 1 hingga 8 minggu setelah terpapar ekskresi tikus. Penderita tipe HPS biasanya merasakan gejala dalam rentang waktu tersebut.
Sementara itu, penderita tipe HFRS cenderung menunjukkan gejala lebih cepat, yaitu antara 1 hingga 2 minggu setelah paparan. Namun, dalam beberapa kasus tertentu, kemunculan gejala HFRS tetap bisa memakan waktu hingga 8 minggu.
Hingga saat ini, belum ditemukan obat khusus atau pengobatan spesifik yang dapat mematikan Hantavirus secara langsung. Oleh karena itu, otoritas kesehatan memfokuskan penanganan pada terapi suportif untuk menjaga stabilitas fisik dan meredakan gejala pasien.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat kontak dengan tikus atau area terbengkalai disarankan segera mengunjungi fasilitas kesehatan. Kejujuran mengenai aktivitas luar ruangan, seperti membersihkan gudang atau garasi, sangat membantu dokter dalam penegakan diagnosis melalui uji laboratorium.
"Apabila Anda terdiagnosis penyakit Hantavirus, dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan mekanisme pengobatan yang Anda perlukan. Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit Hantavirus, pengobatan ditujukan sebagai terapi suportif untuk meredakan gejala yang dialami," tulis Kemenkes.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·