Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi sektor pertanian dengan proyeksi perputaran uang mencapai Rp 600 miliar setiap harinya bagi petani, peternak, dan pembudidaya ikan di seluruh Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, dalam diskusi di Jakarta pada Kamis (16/4), mengungkapkan bahwa total aktivitas ekonomi dari program ini mencapai Rp 1 triliun per hari, di mana mayoritas dialokasikan untuk penyediaan pangan segar, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
"Setiap ada aktivitas kegiatan MPG, sehari (perputaran uang) Rp 1 triliun, itu Rp 600 miliar di antaranya untuk pangan. Pangannya artinya apa? Ada perputaran uang di petani, di peternak, di pembudidaya ikan, dan lainnya Rp 600 miliar (per hari)," kata Suwandi, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian.
Lonjakan permintaan komoditas ini berdampak langsung pada kebutuhan logistik pangan nasional yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kebutuhan beras tahun ini diproyeksikan melonjak tajam menjadi 1,99 juta ton dengan nilai ekonomi menembus Rp 30,6 triliun.
"Kebutuhan beras satu tahun untuk SPPG, ini kami hitung 1,99 juta ton. Sangat besar. Ini (nilainya) Rp 30 triliun-an lebih dan menyerap tenaga kerja banyak," ujar Suwandi.
Selain beras, komoditas protein hewani dan hortikultura juga mencatatkan angka permintaan yang masif untuk operasional program sepanjang tahun 2026. Kebutuhan daging ayam tercatat sebesar 990 ribu ton senilai Rp 41 triliun, sementara kebutuhan telur ayam mencapai 1,37 juta ton dengan nilai Rp 4,45 triliun.
"Itu penambahan dari telur saja itu nilainya sangat besar, daging ayam, buah-buahan, ini menarik," tutur Suwandi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) telah mencapai angka 125,45, yang merupakan rekor tertinggi dalam tiga dekade terakhir.
"NTP sektor pertanian itu 125 poin. Itu seumur-umur 35 tahun terakhir, belum pernah setinggi itu. Petani semua bahagia," ucap Suwandi.
Peningkatan kesejahteraan di level produsen ini juga diikuti dengan perbaikan indikator kemiskinan di desa. Rasio gini pada September 2025 tercatat turun menjadi 0,295, yang menunjukkan penyempitan jurang ketimpangan ekonomi di wilayah pedesaan.
"Artinya kesenjangan yang kaya dan yang miskin itu menipis," kata Suwandi.
\KomoditasVolume KebutuhanNilai Ekonomi (Rp) Beras 1,99 Juta Ton 30,6 Triliun Buah-buahan 2,5 Juta Ton 22,5 Triliun Sayuran 2,48 Juta Ton 9,92 Triliun Daging Ayam 990 Ribu Ton 41 Triliun Telur Ayam 1,37 Juta Ton 4,45 Triliun
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·