Masyarakat di sejumlah wilayah melaporkan kenaikan harga liquified petroleum gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kilogram mencapai Rp210.000 per tabung pada Rabu (15/4/2026). Fenomena ini terjadi di tengah gejolak pasar migas global akibat penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas pasokan energi impor Indonesia.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, harga di tingkat pengecer resmi wilayah Pondok Labu, Jakarta Selatan dan Ciputat, Tangerang Selatan mengalami kenaikan sekitar Rp10.000 dari harga biasanya. Padahal, merujuk pada aplikasi MyPertamina, harga resmi Bright Gas 12 kg seharusnya dibanderol sebesar Rp197.000 per tabung.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa stok LPG nasional saat ini berada dalam kondisi aman dengan ketahanan selama 11 hari. Laode menegaskan bahwa kontrak pembelian dari luar negeri tetap terjaga meskipun pemerintah terus mencari sumber pasokan baru untuk mempercepat ketersediaan di dalam negeri.
"Kami mengimbau menggunakan bahan bakar secara wajar dan bijak, tidak panic buying," kata Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM, pada Rabu (15/4/2026) malam. Ia menambahkan bahwa kelangkaan sering kali dipicu oleh aksi pembelian berlebih atau gangguan pada jalur transportasi dan faktor bencana alam.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa perusahaan terus berupaya menjaga stok agar mencukupi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Pertamina juga menginstruksikan penghematan energi secara masif di tengah ketergantungan impor LPG Indonesia yang mencapai 83,97 persen dari total kebutuhan.
Data Ditjen Migas menunjukkan konsumsi LPG nasional sepanjang Januari hingga Februari 2026 mencapai 1,56 juta metrik ton atau rata-rata 26.000 metrik ton per hari. Dari jumlah tersebut, produksi domestik hanya menyumbang 130.000 metrik ton, sementara sisanya didatangkan dari luar negeri, terutama Amerika Serikat.
| Amerika Serikat | 68,91% |
| Uni Emirat Arab | 11,83% |
| Arab Saudi | 7,36% |
| Qatar | 5,21% |
| Australia | 3,81% |
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengeklaim bahwa kendala stok telah berhasil diatasi sejak 4 April 2026 dengan posisi cadangan di atas 10 hari. Sebagai langkah strategis, pemerintah kini menginstruksikan seluruh kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan produk industri mereka kepada PT Pertamina Patra Niaga guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·