Jakarta (ANTARA) - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun, sekitar 94 persen bahan baku obat yang digunakan industri farmasi nasional masih berasal dari impor.
Kontras itu menunjukkan bahwa persoalan hulu farmasi bukan lagi sekadar isu industri, melainkan menyangkut kemampuan negara menjaga kesehatan warganya ketika dunia menghadapi ketidakpastian.
Kebergantungan tersebut mungkin tidak terasa ketika perdagangan dunia berjalan normal. Namun ketika pandemi, konflik geopolitik, atau gangguan logistik menghambat rantai pasok, kemampuan sebuah negara menyediakan obat ikut dipengaruhi oleh keputusan yang diambil di luar batas wilayahnya.
Sistem kesehatan yang tampak kuat di hilir dapat menjadi rapuh jika fondasinya di hulu belum kokoh.
Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran yang mahal. Ketika banyak negara memprioritaskan kebutuhan domestiknya, akses terhadap bahan baku obat menjadi semakin ketat.
Situasi itu memperlihatkan bahwa ketersediaan obat tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit, tenaga kesehatan, atau alat medis, tetapi juga oleh kemampuan memproduksi komponen utama yang menjadi awal seluruh proses farmasi.
Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperlihatkan besarnya tantangan tersebut. Dari lebih 15 ribu nomor izin edar obat yang beredar di Indonesia, hanya sekitar enam persen yang menggunakan bahan baku hasil produksi dalam negeri. Selebihnya masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Angka itu mungkin terlihat sebagai statistik industri, tetapi dampaknya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ketika pasokan global terganggu atau harga bahan baku melonjak, biaya produksi meningkat, ruang gerak industri menyempit, dan risiko terhadap ketersediaan obat ikut membesar.
Karena itu, penguatan sektor hulu farmasi tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan teknis yang hanya menjadi perhatian peneliti atau pelaku usaha. Ia telah berkembang menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan sistem kesehatan nasional.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sulit ditandingi banyak negara. Keanekaragaman hayati yang tersebar dari hutan tropis, pegunungan, wilayah pesisir, hingga laut menyimpan potensi besar untuk pengembangan bahan baku obat dan inovasi biofarmasi. Kekayaan tersebut dapat menjadi sumber lahirnya molekul baru sekaligus memperkuat industri nasional.
Namun, sumber daya alam tidak otomatis berubah menjadi keunggulan industri. Nilai tambah terbesar dalam sektor farmasi lahir dari riset yang berkelanjutan, penguasaan teknologi, kemampuan manufaktur, serta keberhasilan membawa hasil penelitian menjadi produk yang diproduksi dalam skala besar.
Di titik inilah pekerjaan rumah Indonesia masih panjang.
Perhatian publik selama ini lebih sering tertuju pada pembangunan layanan kesehatan di hilir, seperti rumah sakit, alat kesehatan, atau perluasan akses pelayanan. Semua itu penting dan harus terus diperkuat. Akan tetapi, fondasi sistem kesehatan yang tangguh sesungguhnya berada di sektor hulu.
Rumah sakit membutuhkan obat. Industri obat membutuhkan bahan baku. Sementara bahan baku membutuhkan riset, investasi, sumber daya manusia, dan kebijakan yang konsisten. Jika salah satu mata rantai itu melemah, seluruh sistem ikut menanggung risikonya.
Karena itu, memperkuat sektor hulu farmasi bukan semata-mata upaya mengurangi impor. Yang sedang dibangun adalah kemampuan negara mengurangi risiko ketika dunia menghadapi ketidakpastian.
Membangun ketahanan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·