Ketergantungan Impor Minyak Bikin Mata Uang Peso Filipina Makin Terpuruk

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Ilustrasi Cebu di Filipina. Foto: Shutter Stock

Nilai tukar peso Filipina diperkirakan masih akan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan, meski bank sentral Filipina diprediksi menaikkan suku bunga tahun ini.

Analis menilai lonjakan harga energi akibat perang antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menekan mata uang Filipina. Negara tersebut dinilai sangat rentan karena bergantung pada impor minyak dan remitansi pekerja migran di luar negeri.

Mengutip Bloomberg, Senin (11/5), peso Filipina sudah turun sekitar 3 persen sepanjang tahun ini ke level 60,61 per dolar AS dan sempat mencetak rekor terendah pada akhir April. Sejumlah analis memperkirakan mata uang tersebut masih bisa melemah ke kisaran 62 hingga 63 per dolar AS.

Bank sentral Filipina atau Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) diperkirakan akan menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin sepanjang tahun ini. Normalnya, kenaikan suku bunga dapat menopang nilai tukar mata uang karena menarik aliran modal asing.

Namun dalam kondisi saat ini, kenaikan harga minyak justru membuat Filipina harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor energi sehingga menekan pertumbuhan ekonomi dan neraca perdagangan.

Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: Shutterstock

“Kami memperkirakan peso masih akan cenderung melemah pada 2026 karena prospek pertumbuhan yang tidak pasti, defisit transaksi berjalan yang lebar, dan risiko inflasi yang tinggi,” ujar Kepala Riset Asia Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh.

Ia memperkirakan peso Filipina dapat melemah hingga level 63 per dolar AS pada akhir tahun.

Analis senior BNY, Wee Khoon Chong, mengatakan lonjakan harga minyak berpotensi menghapus manfaat dari kenaikan suku bunga.

Menurut dia, kenaikan biaya impor energi akan memberikan tekanan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi Filipina.

Data ekonomi terbaru juga menunjukkan kondisi ekonomi Filipina mulai melambat. Produk domestik bruto (PDB) kuartal I hanya tumbuh 2,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar. Konsumsi rumah tangga juga mencatat pertumbuhan paling lambat dalam hampir 16 tahun di luar masa pandemi.

Di sisi lain, investor asing mulai menarik dana dari pasar saham Filipina. Sejak perang dimulai, dana global tercatat keluar lebih dari USD 400 juta dari pasar saham negara tersebut. Indeks saham Filipina juga turun 1,5% sepanjang tahun ini, menjadi salah satu yang terburuk di Asia Tenggara setelah Indonesia.

Tekanan inflasi pun meningkat. Inflasi konsumen April tercatat naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir.

Analis Sumitomo Mitsui Banking Corp., Jeff Ng, mengatakan tingginya harga energi dapat membuat nilai tukar dolar AS terhadap peso terus naik.

“Biaya energi yang tinggi dapat mendorong pasangan dolar-peso menguji level 62 hingga 63,” ujarnya.

Bendera Filipina. Foto: Pemerintah Filipina.

Pasar kini juga menyoroti potensi penurunan remitansi dari pekerja migran Filipina di Timur Tengah akibat perang Iran. Pemerintah Filipina memperkirakan pengiriman pekerja ke kawasan tersebut dapat turun hingga separuh tahun ini. Sekitar 2,4 juta warga Filipina bekerja di Timur Tengah. Padahal remitansi menjadi salah satu sumber utama devisa negara itu.

Analis MUFG Bank, Michael Wan, mengatakan negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah menghadapi risiko besar jika Selat Hormuz tetap ditutup akibat konflik.

“Filipina, seperti yang selama ini kami soroti, termasuk dalam kelompok negara yang rentan,” katanya.