Ketergantungan Moskow terhadap Beijing semakin mendalam dengan catatan impor lebih dari 90 persen teknologi yang terkena sanksi berasal dari China pada Sabtu (2/5/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran 80 persen.
Peningkatan ini terjadi di tengah langkah Uni Eropa yang terus memperketat jalur distribusi barang-barang terlarang menuju Rusia. Meskipun volume total tidak dirinci secara spesifik, pasokan tersebut dilaporkan telah membantu Rusia dalam memproduksi berbagai sistem persenjataan strategis.
Dukungan teknologi ini mencakup komponen krusial seperti semikonduktor, sirkuit terpadu, barang elektronik, hingga mesin industri. Selain perangkat keras, Beijing dilaporkan menyediakan intelijen geospasial serta citra satelit untuk kepentingan militer guna mendukung operasi pasukan Vladimir Putin.
Sebagian besar negara anggota Uni Eropa saat ini masih menunjukkan keraguan untuk menerapkan sanksi yang lebih berat kepada China. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran terhadap potensi tindakan balasan atau pembalasan ekonomi dari pemerintah Beijing.
Pihak China sendiri secara konsisten menyatakan sikapnya mengenai hubungan dagang tersebut. Pemerintah setempat menegaskan tetap menjaga kemitraan ekonomi yang wajar dengan pihak Rusia di tengah tekanan internasional yang ada.
Langkah tegas diambil Beijing menyusul kebijakan terbaru Uni Eropa yang memasukkan entitas asal China ke dalam daftar hitam. Pemerintah China menyatakan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons atas penambahan beberapa entitasnya ke dalam paket sanksi terbaru tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·