Ketika angka menjadi arah kota

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Surabaya (ANTARA) - Di sebuah sudut kawasan perdagangan Kota Surabaya, Jawa Timur, yang tak pernah benar-benar lengang, seorang pedagang kecil tampak sibuk menatap layar ponselnya yang terus menyala.

Notifikasi pesanan datang bertubi-tubi, stok barang bergerak cepat mengikuti permintaan, sementara catatan manual di buku lama mulai jarang disentuh.

Pelanggan yang dulu hanya datang dari sekitar gang, kini menjangkau luar kota, bahkan lintas wilayah melalui layar digital.

Di tengah ritme yang berubah cepat tanpa jeda itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya menyiapkan satu agenda besar yang kerap tak tampak di permukaan, namun sesungguhnya menjadi penentu arah ekonomi ke depan, yakni Sensus Ekonomi 2026.

Bukan sekadar kegiatan pendataan rutin, sensus ini hadir ketika struktur ekonomi Surabaya tengah berada dalam arus perubahan yang intens. Ekonomi digital tumbuh melampaui pola lama, model usaha bergeser dari fisik ke virtual, dan batas antara usaha formal serta informal kian kabur.

Di titik inilah data tidak lagi sekadar catatan administratif, melainkan menjadi kompas kebijakan yang menentukan arah langkah sebuah kota di tengah perubahan yang terus bergerak.


Jejak dinamis

Sensus Ekonomi 2026 menjadi momentum penting karena digelar di tengah transformasi besar ekonomi perkotaan. Surabaya, sebagai salah satu pusat ekonomi utama di Jawa Timur, menyumbang sekitar seperempat perekonomian provinsi. Artinya, setiap ketepatan atau kekeliruan data di kota ini akan berdampak luas pada arah pembangunan regional.

Pelaksanaan sensus berlangsung 1 Mei hingga 31 Juli 2026 dengan target sekitar 415 ribu unit usaha nonpertanian. Jumlah itu bukan sekadar angka administratif, melainkan representasi dari denyut ekonomi yang sangat beragam, mulai dari pedagang kecil di pasar tradisional, pelaku industri rumahan, hingga perusahaan besar dan startup digital yang tumbuh pesat.

Kehadiran sekitar 1.900 petugas lapangan yang diturunkan oleh BPS Surabaya menunjukkan skala pekerjaan yang tidak ringan. Mereka tidak hanya mendatangi kantor perusahaan, tetapi juga rumah-rumah yang menjadi tempat usaha, ruang kerja digital tanpa alamat tetap, hingga pelaku ekonomi kreatif yang beroperasi di platform daring.

Tantangan utamanya adalah perubahan perilaku ekonomi itu sendiri. Banyak usaha kini tidak lagi berbentuk fisik yang mudah ditandai. Penjual makanan bisa beroperasi dari dapur rumah, layanan desain grafis bekerja lintas kota, dan perdagangan barang terjadi sepenuhnya di ruang digital. Dalam konteks ini, sensus tidak hanya menghitung, tetapi juga menafsirkan ulang apa yang disebut sebagai “usaha”.

Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 menjadi krusial. Ia bukan sekadar pencatatan, melainkan upaya membaca ulang wajah ekonomi yang semakin cair dan tidak lagi terikat batas-batas lama.


Struktur usaha

Di balik data sensus, terdapat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana sebenarnya struktur ekonomi Surabaya hari ini terbentuk, dan ke mana arahnya bergerak?

Transformasi digital menjadi salah satu variabel paling kuat yang mengubah lanskap usaha. Pemerintah kota dan BPS Surabaya secara terbuka mengakui bahwa sebagian besar pelaku usaha digital belum sepenuhnya terjangkau oleh metode pendataan konvensional. Hal ini menciptakan ruang kosong dalam data yang dapat berimplikasi pada ketidaktepatan kebijakan.

Ketika data tidak utuh, maka kebijakan berisiko tidak menyentuh akar persoalan. Misalnya, program bantuan usaha bisa tidak tepat sasaran, pelatihan kerja tidak sesuai kebutuhan, atau intervensi ekonomi tidak menjangkau sektor yang justru sedang tumbuh cepat.

Di sisi lain, pendekatan yang digunakan dalam Sensus Ekonomi 2026 mencoba memperbaiki hal itu dengan memasukkan variabel yang lebih luas, seperti nomor induk berusaha, karakteristik usaha, jumlah tenaga kerja, hingga aspek keuangan, seperti pendapatan dan aset. Namun, lebih dari itu, tantangan terbesar tetap pada partisipasi pelaku usaha itu sendiri.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.