Kemenkes Laporkan 23 Kasus Hantavirus di Sembilan Provinsi Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kementerian Kesehatan RI melaporkan temuan 23 kasus Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir hingga Kamis (7/5/2026). Data tersebut mencatat adanya tiga korban jiwa dengan tingkat fatalitas mencapai 13 persen dari total laporan yang masuk.

Hasil identifikasi laboratorium menunjukkan seluruh temuan di tanah air merupakan jenis Seoul Virus, berbeda dengan jenis Andes Virus yang baru-baru ini memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius. Infeksi ini umumnya menular melalui interaksi dengan tikus dan celurut yang terinfeksi, baik lewat gigitan maupun terhirupnya partikel debu yang terkontaminasi kotoran hewan tersebut.

Tren infeksi menunjukkan lonjakan signifikan pada tahun lalu dengan total 17 kasus, sementara pada tahun 2024 hanya ditemukan satu kasus. Memasuki tahun 2026, otoritas kesehatan kembali mengonfirmasi penambahan lima kasus baru yang memperluas peta sebaran wilayah terdampak.

Sebaran Wilayah Kasus Hantavirus di IndonesiaNoProvinsi Terdampak
1DI Yogyakarta
2Jawa Barat
3DKI Jakarta
4Sulawesi Utara
5NTT
6Sumatera Barat
7Banten
8Jawa Timur
9Kalimantan Barat

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memberikan rincian terkait kondisi klinis para pasien yang teridentifikasi selama periode tersebut.

"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," demikian konfirmasi Aji Muhawarman, Kamis (7/5/2026).

Aji menjelaskan bahwa risiko masuknya Hantavirus jenis Andes yang dapat menular antarmanusia ke Indonesia masih dipantau pada level rendah. Menurut penjelasannya, pola penularan tipe tersebut lebih sering ditemukan di wilayah Amerika Selatan dan jarang terjadi di kawasan lain.

"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," tuturnya.

Terkait tiga kasus kematian yang terjadi, Kemenkes menyebutkan bahwa kondisi fatal tersebut tidak hanya dipicu oleh serangan virus semata. Sejumlah faktor medis penyerta turut memperburuk kondisi kesehatan pasien saat masa perawatan.

"Tingkat kematian disebutnya relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan," pungkas Aji Muhawarman.