Dalam beberapa dekade terakhir, peta kekuatan geopolitik dunia seolah sudah ditetapkan. Amerika Serikat digambarkan sebagai pahlawan pembawa obor demokrasi dan kebebasan, sementara Tiongkok sering kali ditempatkan sebagai antagonis dalam narasi besar Barat. Namun, jika kita mengamati tren yang berkembang di kalangan Generasi Z (Gen Z) saat ini, hal tersebut tampak mulai usang dan tidak lagi relevan bagi mereka yang lahir di era digital.
Sebuah pergeseran paradigma sedang terjadi. Anak muda—baik di Eropa maupun Amerika sendiri—mulai menunjukkan pandangan yang lebih simpatik dan positif terhadap Tiongkok. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan juga refleksi dari kekecewaan mendalam terhadap sistem yang selama ini mereka anggap ideal. Lalu, mengapa generasi yang tumbuh dalam kebebasan informasi ini justru tampak 'pro-Tiongkok' dibandingkan generasi orang tua mereka?
Akar dari fenomena ini terletak pada kekecewaan terhadap sistem demokrasi liberal. Bagi banyak Gen Z, narasi tentang 'Impian Amerika' atau kesejahteraan Eropa terasa semakin jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Mereka tumbuh di tengah krisis biaya hidup, harga rumah yang tidak terjangkau, kesulitan mencari pekerjaan yang layak, dan beban utang pendidikan yang mencekik.
Ketika mereka membandingkan janji-janji demokrasi dengan realitas pahit yang mereka alami, muncul sebuah pertanyaan: Jika sistem ini adalah yang terbaik, mengapa hidup justru terasa semakin berat?
Kekecewaan ini diperparah dengan diskursus politik yang dianggap tidak produktif. Melihat pemimpin-pemimpin yang terpilih melalui proses demokrasi—tapi dianggap gagal membawa perubahan nyata—membuat Gen Z menjadi skeptis.
Akibatnya, mereka mulai melirik model tata kelola lain. Mereka tidak lagi memuja ideologi secara membabi buta. Bagi mereka, yang terpenting adalah hasil. Jika pemerintahan yang otoriter mampu membangun kota futuristik, menyediakan transportasi publik yang canggih, dan menjamin stabilitas ekonomi dengan lebih cepat daripada parlemen yang terjebak dalam perdebatan, bagi sebagian Gen Z, model tersebut tampak lebih menarik.
Selama puluhan tahun, propaganda Barat berhasil melabeli komunisme sebagai musuh utama kebebasan. Namun, bagi Gen Z, label ini sudah kehilangan giginya. Mereka adalah generasi yang tidak memiliki trauma Perang Dingin. Bagi mereka, komunisme hanyalah istilah dalam buku teks sejarah yang tidak relevan dengan kehidupan masa kini.
Mereka melihat Tiongkok sebagai negara yang mampu bertransformasi dari negara agraris menjadi pusat industri dunia dalam waktu singkat. Ketika mereka melihat pencapaian Tiongkok di bidang teknologi, industri manufaktur, hingga infrastruktur, narasi bahwa 'komunisme itu buruk' justru dianggap sebagai propaganda yang tidak sinkron dengan fakta di lapangan. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat di layar smartphone mereka, yaitu sebuah kemajuan.
Salah satu faktor yang paling krusial adalah kepedulian Gen Z terhadap isu-isu global, seperti krisis iklim dan transisi energi hijau. Generasi ini tumbuh dengan ancaman nyata perubahan iklim di depan mata. Ketika negara-negara Barat dianggap lamban dalam bertindak atau terhambat oleh kepentingan politik, Tiongkok justru tampil sebagai pemimpin global dalam teknologi hijau.
Data menunjukkan bahwa dominasi Tiongkok dalam produksi panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik tidak terbantahkan. Bagi Gen Z, tindakan nyata Tiongkok dalam memitigasi krisis iklim—meskipun industri mereka belum sepenuhnya bersih—dianggap sebagai bentuk kepemimpinan yang progresif. Tiongkok dipandang sebagai negara yang 'bekerja' saat negara lain hanya 'berbicara'.
Jangan lupakan peran soft power yang sangat cerdas dilakukan mereka. Lewat platform seperti TikTok yang ironisnya berasal dari Tiongkok, generasi muda dunia terpapar pada gaya hidup, tren, dan konten kreatif dari Tiongkok secara organik. Fenomena seperti China Maxing—di mana anak muda di Barat mencoba gaya hidup, makanan, hingga pengobatan tradisional Tiongkok—menunjukkan bahwa pengaruh Tiongkok telah merambah ke tingkat personal.
Produk-produk seni, mainan koleksi seperti blind box (seperti Labubu), hingga drama Tiongkok yang produksinya kini sangat kolosal dan berkualitas tinggi, telah berhasil mengubah citra Tiongkok. Negara ini bukan lagi dianggap sebagai tempat barang murah berkualitas rendah, melainkan sebagai pusat kreativitas dan kemajuan teknologi yang sangat hype.
Fenomena ini adalah lonceng peringatan bagi Barat. Jika sistem demokrasi tidak mampu menjawab tantangan ekonomi dan isu eksistensial generasi muda, jangan heran jika anak muda akan terus mencari alternatif, bahkan jika itu berarti beralih ke model pemerintahan yang selama ini mereka hindari.
Tiongkok telah berhasil melakukan perubahan citra yang fenomenal. Mereka bukan lagi sekadar menjadi 'pabrik dunia', melainkan juga mulai menjadi kiblat bagi sebagian generasi muda dalam hal efisiensi, teknologi, dan cara penyelesaian masalah.
Apakah ini berarti Gen Z benar-benar ingin menjadi otoriter? Belum tentu. Namun, ini adalah tanda bahwa kesabaran terhadap kondisi saat ini telah habis. Generasi ini menuntut perubahan, dan mereka tidak ragu untuk mencari inspirasi dari mana saja, termasuk dari negara yang selama ini dianggap sebagai saingan utama demokrasi liberal.
Perang pengaruh saat ini bukan lagi sekadar perang militer atau ekonomi, melainkan juga perang memperebutkan hati dan pikiran generasi masa depan. Dan untuk saat ini, Tiongkok tampaknya sedang memenangkan perhatian tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·