Bandung (ANTARA) - Denting palu terdengar nyaris tanpa jeda dari sebuah bengkel sederhana di Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.
Bara api tungku menyala terang sejak pagi, sementara para pekerja sibuk menempa besi panas menjadi bilah-bilah golok yang akan dikirim ke berbagai daerah.
Di momen Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Kampung Pandai Besi kembali hidup lebih sibuk dibanding hari-hari biasa. Lonjakan permintaan golok untuk kebutuhan penyembelihan hewan kurban membawa berkah ekonomi bagi para perajin di wilayah tersebut.
Di Saung Bilah, salah satu toko golok yang cukup dikenal di kawasan itu, etalase tampak lebih lengang dari biasanya. Sejumlah jenis golok bahkan habis diburu pembeli sebelum sempat lama dipajang.
Pemilik Saung Bilah, Pepen Yohana (36), mengatakan peningkatan permintaan mulai terasa sejak satu bulan menjelang Idul Adha. Namun dalam beberapa pekan terakhir, pesanan datang bertubi-tubi hingga mencapai ribuan bilah.
“Momentum seperti Idul Adha tiap tahun ramai. Kalau kata petani, ini ibarat masa panen,” katanya di Bandung, Selasa (26/5).
Menurut dia, tingginya pesanan tidak hanya datang dari masyarakat sekitar Bandung, tetapi juga dari pedagang besar dan pengepul luar daerah yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.
“Kadang ada yang ambil 100 biji, bahkan sampai 1.000 biji,” ujarnya.
Ramainya permintaan golok menjadi penanda meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat menjelang Idul Adha. Tradisi kurban yang berlangsung setiap tahun ikut menggerakkan berbagai usaha kecil dan menengah, termasuk sektor kerajinan tradisional seperti pandai besi.
Di Kampung Pandai Besi, peningkatan produksi otomatis membuat roda ekonomi lokal ikut berputar lebih cepat. Bukan hanya pemilik toko yang merasakan keuntungan, tetapi juga pekerja tempa, pengrajin gagang golok, pemasok kayu, penjual arang, hingga jasa pengiriman barang.
Asep (45), seorang perajin golok yang telah puluhan tahun bekerja di kampung tersebut, mengaku jam kerja para pekerja kini bertambah dibanding hari biasa demi memenuhi target pesanan.
“Kalau menjelang Iduladha memang paling sibuk. Kadang sampai malam masih kerja,” katanya sambil menghaluskan bilah golok menggunakan gerinda.
Menurut Asep, kondisi itu membawa tambahan penghasilan bagi para pekerja harian. Dalam satu musim Idul Adha, pendapatan mereka bisa meningkat cukup signifikan dibanding bulan-bulan biasa.
Kondisi serupa juga dirasakan sejumlah pelaku usaha lain di sekitar sentra pandai besi. Warung makan, toko kelontong, hingga penjual bahan baku ikut merasakan dampak meningkatnya aktivitas produksi di kawasan tersebut.
Bagi warga setempat, Idul Adha bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi musiman yang mampu menjaga roda usaha tetap berputar.
Tingginya permintaan golok tahun ini juga menunjukkan daya beli masyarakat yang masih cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan kurban.
Pepen mengatakan jenis golok yang paling banyak dicari adalah golok sembelih, golok sisit kulit, dan golok cacah daging. Ketiga jenis itu menjadi perlengkapan utama dalam proses penyembelihan hingga pengolahan daging kurban.
Baca juga: Memadukan spiritualitas, solidaritas dan ekonomi dalam ibadah Kurban
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·