Ketika laut menjadi masa depan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ekonomi biru semestinya menjadi alat pemerataan baru. Wisata bahari berbasis komunitas, industri pengolahan hasil laut skala kecil, budidaya rumput laut, hingga konservasi mangrove dapat menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di kawasan pesisir.

Surabaya (ANTARA) - Pagi di pesisir Brondong, Lamongan, Jawa Timur, selalu dimulai lebih cepat daripada kota. Ketika sebagian besar orang baru membuka mata, perahu-perahu nelayan sudah kembali dari laut membawa tongkol, cumi, dan harapan yang bergantung pada cuaca.

Di tempat seperti itu, laut bukan sekadar bentang air asin. Laut adalah dapur, sekolah anak-anak, ongkos hidup, sekaligus masa depan sebuah daerah.

Jawa Timur sejak lama hidup dari denyut ekonomi maritim. Provinsi ini memiliki garis pantai lebih dari 3.500 kilometer, ratusan ribu nelayan, pelabuhan besar, industri pengolahan ikan, galangan kapal, hingga jalur perdagangan yang menghubungkan kawasan timur Indonesia.

Namun, selama bertahun-tahun, laut sering dipandang sebatas sumber eksploitasi. Ikan ditangkap sebanyak mungkin, pesisir dibangun tanpa kendali, sementara ekosistem mangrove dan terumbu karang perlahan menyusut.

Kini, istilah ekonomi biru mulai sering terdengar dalam kebijakan pemerintah. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut ekonomi biru salah satu kunci menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.

Pemerintah pusat pun mendorong agenda serupa melalui pembangunan kampung nelayan, konservasi laut, hingga penguatan industri perikanan berkelanjutan.

Namun pertanyaannya, apakah ekonomi biru benar-benar akan menjadi jalan baru pembangunan Jawa Timur, atau hanya slogan baru yang terdengar indah di ruang seminar?

Baca juga: Khofifah ajak nelayan Jatim terapkan konsep ekonomi biru


Laut terabaikan

Ada ironi besar dalam pembangunan Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Negeri kepulauan ini justru terlalu lama membangun dengan orientasi daratan. Kota tumbuh ke atas, jalan tol dibangun panjang, kawasan industri meluas, tetapi banyak kampung pesisir tetap tertinggal.

Padahal, potensi ekonomi kelautan Jawa Timur sangat besar. Data Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunjukkan produksi olahan kelautan mencapai lebih dari satu juta ton per tahun dan ratusan ribu ton di antaranya diekspor ke berbagai negara. Sektor ini menopang rantai ekonomi yang panjang, mulai dari nelayan, pengolah ikan, industri pendingin, logistik, hingga perdagangan ekspor.

Masalahnya, pertumbuhan ekonomi maritim sering tidak berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat pesisir. Banyak nelayan tetap hidup dalam ketidakpastian. Ketika musim buruk datang, penghasilan turun drastis. Harga ikan juga sering jatuh karena rantai distribusi yang panjang membuat keuntungan lebih banyak dinikmati tengkulak dan industri besar.

Di banyak wilayah pesisir utara Jawa Timur, abrasi menjadi ancaman serius. Mangrove rusak, sampah plastik meningkat, dan kualitas ekosistem menurun. Laut dipaksa menghasilkan lebih banyak, tetapi kemampuan laut untuk memulihkan dirinya sering diabaikan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.