Cimahi (ANTARA) - Di balik pagar seng biru di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, ada sebuah aktivitas yang sekilas tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita besar tentang perubahan cara pandang terhadap sampah.
Di sana, tumpukan plastik bekas kemasan, label, dan bungkus makanan yang biasanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), justru menjadi bahan baku energi.
Alih-alih dibakar atau sekadar dipilah, plastik-plastik tersebut diolah melalui proses yang lebih lanjut hingga menghasilkan bahan bakar minyak.
Prosesnya berlangsung di dalam sebuah reaktor logam, tempat plastik dipanaskan tanpa oksigen hingga terurai. Dari situ, uap yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui sistem pendingin, sebelum akhirnya menetes perlahan menjadi cairan berwarna kekuningan.
Cairan inilah yang kemudian dikenal sebagai Petasol, solar alternatif yang berasal dari sampah plastik.
Di tempat inilah, Bank Sumberdaya Sampah Induk–Melong 26 menjadi saksi bagaimana limbah yang selama ini dianggap masalah, perlahan berubah menjadi sumber daya.
Tentu saja, gagasan besar itu tidak lahir dalam semalam.
Baca juga: Cimahi luncurkan kartu ATM bank sampah
Berawal dari Bank Sampah
Lionardi Sutandi, salah satu inisiator, mengisahkan bahwa semuanya berawal dari pengalaman sederhana di bank sampah. Saat itu, sebagian besar sampah masih bisa dikelola.
Kertas, botol, logam semuanya punya nilai. Namun, plastik bernilai rendah (low value) justru menjadi titik buntu.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·