Ketua DPP PSI Sebut Hubungan Partainya dengan Jusuf Kalla Harmonis

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ketua DPP PSI Bestari Barus menegaskan hubungan partainya dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla tetap terjaga dengan baik pada Kamis (7/5/2026). Pernyataan ini merespons mundurnya kader PSI, Ade Armando, setelah dilaporkan puluhan ormas Islam terkait dugaan pemotongan video ceramah Jusuf Kalla.

Dilansir dari Detikcom, Bestari Barus menyatakan pihaknya sepakat dengan pandangan pihak Jusuf Kalla mengenai pentingnya mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Ia menekankan bahwa tidak ada sentimen negatif di balik komentar pihak Jusuf Kalla terkait pengunduran diri Ade Armando.

"Semuanya kita belajar, bahkan belajar itu dari buaian sampai ke liang lahat, kan begitu. Nah itu makna daripada yang dia sampaikan ya saya menangkapnya ya belajar bagi semua pihak itu menjadi pembelajaran apa pun yang sedang kita alami hari ini semua menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Saya kira itu, tidak ada yang tidak ada saya tidak melihat ada tendensi apa-apa," kata Bestari Barus, Ketua DPP PSI.

Bestari kemudian menegaskan bahwa PSI sudah tidak memiliki kewajiban untuk memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai tindakan personal Ade Armando. Menurutnya, dampak dari tindakan tersebut tidak bisa lagi dikaitkan dengan institusi partai.

"PSI tidak lagi dalam posisi harus menjelaskan apa yang menjadi tanggung jawab orang perorangan gitu ya. Ya kalau setelah Bung Ade itu mengundurkan diri dari PSI sebagai anggota maupun kader, kan sudah ada pernyataan jelas bahwa beliau itu memahami dampak besar itu ditarik-tarik ke PSI," ucap Bestari Barus.

Ia juga menambahkan bahwa Ade Armando telah menyatakan kesiapan untuk menanggung segala konsekuensi atas tindakannya secara mandiri. Hal ini mempertegas posisi partai yang kini membatasi keterlibatan dalam polemik tersebut.

"Lalu setelah mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab secara pribadi, mempertanggungjawabkan itu, nah jadi PSI tidak dalam posisi lagi untuk menanggapi-nanggapi atau apa gitu lho," lanjut Bestari Barus.

Mengenai hubungan dengan Jusuf Kalla, Bestari menepis adanya konflik struktural maupun personal. Ia menyinggung kedekatan Ketua Harian PSI Ahmad Ali dengan Jusuf Kalla, serta kerja sama masa lalu antara Presiden Joko Widodo dengan sang mantan Wakil Presiden.

"PSI bahkan belum pernah bersentuhan secara langsung ya dengan Pak JK. Saya kira tidak ada hubungan yang rusak antara PSI dengan Pak JK. Ketua Harian kami (Ahmad Ali) bersahabat dengan Pak JK. Pak Jokowi juga pernah bersama-sama dengan Pak JK itu selama lima tahun sebagai Presiden dan Wakil Presiden dan dalam perjalanan itu baik-baik saja," ujar Bestari Barus.

Bestari menilai PSI merupakan partai kecil sehingga tidak mungkin memiliki konfrontasi besar dengan tokoh sekaliber Jusuf Kalla. Ia memastikan dinamika yang terjadi saat ini bersifat individual.

"Nggak ada konfrontasi apa pun yang bisa dikait-kaitkan kemudian apakah ini karena ada hubungan yang kurang harmonis antara PSI dengan Pak JK. Apalah PSI ini partai kecil-kecil aja, kalau Pak JK itu orang besar. Mana masa Pak JK kemudian bermasalah sama PSI, tidaklah," tutur Bestari Barus.

Keputusan mundur Ade Armando ditekankan murni sebagai urusan pribadi demi menjaga nama baik organisasi. Bestari menegaskan bahwa langkah hukum yang dihadapi oknum tidak mencerminkan kebijakan partai.

"Kalau masalah mengenai adanya hal-hal yang terkait oknum-oknum tertentu atau orang-orang tertentu atau pribadi-pribadi tertentu saya kira itu urusan pribadi yang tidak bisa dikaitkan langsung kepada PSI atau menjadi kebijakan PSI," imbuh Bestari Barus.

Sebelumnya, Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, pada Rabu (6/5) memberikan tanggapan terkait polemik pengunduran diri tersebut. Ia menilai keputusan Ade Armando adalah hak internal sang politisi agar tidak membebani partai.

"Kalau soal pengunduran diri Ade Armando dari partainya, itu masuk ranah internal beliau. Yang konon karena tidak mau partainya disangkut pautkan," kata Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.

Husain juga memberikan peringatan keras agar praktik-praktik yang dilakukan oleh Ade Armando tidak terulang di masa depan. Ia menyoroti pentingnya etika komunikasi publik agar tidak merusak karakter seseorang.

"Karena itu ini pelajaran buat siapapun. Bukan hanya kepada Ade Armando. Bahwa praktik-praktik pembohongan publik seperti itu yang menyerupai praktik agitasi dan propaganda yang bertujuan menggiring opini sesat, untuk pembunuhan karakter terhadap seseorang, hendaknya dihentikan," ujar Husain Abdullah.