Ketua MUI Kota Tangerang Ingatkan Pentingnya Istiqamah Ibadah Pasca Ramadhan

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Mempertahankan kualitas iman dan konsistensi amal dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan utama bagi umat Islam setelah berlalunya bulan suci. Pentingnya menjaga sikap istiqamah ini menjadi poin utama dalam materi khutbah yang disampaikan oleh Dr KH Ahmad Suja’i Mughni, MM, selaku Ketua 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, dilansir dari Cahaya.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ:(فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ)

Masa gemblengan selama sebulan penuh seharusnya melahirkan perubahan nyata, bukan sekadar menjadi rutinitas tahunan yang hilang tanpa bekas. Keberhasilan spiritual seseorang justru diuji ketika Ramadhan telah usai melalui kesinambungan ketaatannya kepada Allah SWT.

Kewajiban menghamba kepada Sang Pencipta tidak dibatasi oleh sekat waktu atau bulan tertentu, melainkan berlaku sepanjang hayat dikandung badan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Hijr ayat 99.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Prinsip amaliah terbaik adalah melakukan kebaikan secara terus-menerus meskipun dalam kadar yang sedikit atau sederhana. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan hal ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Salah satu parameter diterimanya ibadah puasa adalah terjaganya ketaatan personal setelah Idul Fitri berlalu. Sebaliknya, orang yang mendadak meninggalkan ketaatan usai bulan suci dinilai sebagai golongan yang merugi oleh para ulama.

Menjaga shalat wajib di awal waktu dan melengkapinya dengan shalat sunnah menjadi fondasi utama dalam memperkuat hubungan dengan Allah. Kebiasaan beribadah malam yang telah terbentuk selama Ramadhan sebaiknya tidak dibiarkan hilang begitu saja.

Interaksi dengan Alquran juga harus tetap berjalan melalui kegiatan tilawah, tadabbur, dan pengamalan isinya dalam kehidupan sosial. Alquran hendaknya menjadi kompas yang menuntun langkah seorang mukmin dalam menghadapi berbagai dinamika duniawi.

Menyempurnakan Ketaatan di Bulan Syawal

Kesungguhan spiritual dapat dibuktikan dengan melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal yang memiliki keutamaan luar biasa. Praktik ini merupakan bentuk cinta kepada Allah sekaligus upaya mempertahankan kedekatan batin yang telah dibangun susah payah.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.” (HR Muslim)

Istiqamah menuntut kesabaran ekstra dan komitmen yang kuat karena Allah menilai kesinambungan serta ketulusan dari setiap hamba-Nya. Sikap ini akan membentuk pribadi yang tangguh, sabar, dan selalu memiliki harapan tinggi akan rahmat Ilahi.

Al-Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah pernah memberikan peringatan keras bagi mereka yang hanya rajin beribadah saat bulan Ramadhan saja.

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang saleh itu adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Upaya memperbanyak dzikir, melanggengkan sedekah, serta memperbaiki hubungan bertetangga menjadi bagian dari implementasi nilai Ramadhan yang mendidik empati. Ujian keimanan yang sesungguhnya adalah membuktikan apakah ibadah kita bersifat musiman atau telah mendarah daging menjadi karakter hidup.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ