Ketegangan Iran dan AS&Israel Berlanjut Meski Gencatan Senjata Berjalan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Konflik bersenjata antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan masih jauh dari titik temu meski kesepakatan gencatan senjata telah berlangsung selama 10 hari terakhir. Situasi ini berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi serta pasokan minyak mentah di pasar global, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Minggu (19/4/2026).

Teuku Rezasyah, pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, memberikan analisis mengenai dinamika pertempuran yang saat ini sedang dalam fase istirahat dari aksi saling serang rudal maupun drone. Menurut pengamatannya, belum ada indikasi kuat bahwa peperangan ketiga negara tersebut akan berhenti secara permanen dalam waktu dekat.

"Tidak terlihat adanya tanda perang akan berakhir walaupun AS, Israel dan Iran bersepakat untuk gencatan senjata," kata Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

Penilaian tersebut didasari pada strategi diplomasi Iran yang memanfaatkan otoritas mereka di Selat Hormuz sejak dimulainya gencatan senjata pada 8 April lalu. Iran sempat mengumumkan pembukaan akses jalur pelayaran vital tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk menutupnya kembali hanya dalam hitungan jam.

"Iran sangat lihai berdiplomasi. Membuka akses Selat Hormuz, sesuai kedaulatannya yang benar secara hukum internasional," kata Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

Langkah tarik ulur yang dilakukan Iran di Selat Hormuz dinilai berbanding terbalik dengan posisi Amerika Serikat yang dianggap mengabaikan tatanan hukum internasional. Rezasyah menyebutkan bahwa tindakan AS yang berupaya memblokade jalur tersebut justru berisiko merusak hubungan diplomatik Washington dengan negara-negara pengguna jalur pelayaran internasional.

Selain faktor jalur logistik minyak, tekanan politik domestik yang dialami para pemimpin AS dan Israel menjadi faktor penghambat perdamaian. Melanjutkan konfrontasi dianggap menjadi strategi bagi Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk mengamankan posisi mereka dari ancaman pelengseran jabatan di negara masing-masing.

"Terlihat AS dan Israel gelisah. Karena ide pemakzulan sedang marak di AS dan Israel. Karena itu berlanjutnya perang memungkinkan Donald Trump dan Benyamin Netanyahu memperlambat pemakzulan," ujar Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

Peluang perpanjangan masa gencatan senjata sejatinya masih terbuka lebar apabila pihak AS dan Israel bersedia bersikap akomodatif terhadap poin-poin kesepakatan yang telah dirancang. Namun, sejarah pelanggaran perjanjian damai yang sering dilakukan kedua negara tersebut membuat keberlangsungan stabilitas saat ini menjadi sangat rentan.

"Gencatan senjata berpotensi gagal kembali, sekiranya AS dan Israel kembali melakukan pemboman atas wilayah Iran," pungkas Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.