Keyakinan konsumen di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan drastis pada April 2026, mencapai level terendah sepanjang sejarah. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran yang meningkat terkait lonjakan harga energi dan dampak ekonomi yang lebih luas akibat konflik di Iran. Hal ini dilaporkan pada Senin (13/4/2026) dari survei University of Michigan.
Indeks sentimen konsumen merosot menjadi 47,6 pada bulan tersebut, turun 10,7 persen dibandingkan Maret 2026. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak survei dilakukan. Indeks kondisi saat ini dan ekspektasi juga menunjukkan penurunan dua digit secara bulanan.
Kekhawatiran utama konsumen terhadap konflik Iran dilaporkan dari berbagai sumber. Kenaikan harga bensin, yang melonjak 21,2 persen dari Februari ke Maret 2026, dilaporkan sebagai penyebab utama inflasi. Harga bahan bakar minyak (BBM) juga naik lebih dari 30 persen, tertinggi sejak Februari 2000, seperti dilansir dari BBC.
Ekspektasi inflasi turut melonjak. Responden memperkirakan harga akan naik 4,8 persen dalam 12 bulan ke depan, meningkat satu poin persentase dari bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, ekspektasi inflasi satu tahun sempat mencapai 6,5 persen pada April 2025.
Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,9 persen pada Maret 2026, mendorong inflasi tahunan menjadi 3,3 persen. Peningkatan ini didorong sebagian besar oleh lonjakan harga energi, sementara inflasi pangan relatif stabil.
Direktur survei, Joanne Hsu, mengatakan, "Komentar survei menunjukkan bahwa banyak konsumen menyalahkan konflik Iran atas perubahan yang tidak menguntungkan bagi perekonomian."
Kenaikan harga energi terutama dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur penting untuk distribusi minyak. Penutupan jalur ini menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan berdampak langsung pada harga bahan bakar.
Harga bensin di negara bagian seperti California mencapai sekitar Rp 101.340 per galon, jauh di atas rata-rata nasional sekitar Rp 71.089 per galon. Associate Director di Evelyn Partners, Arielle Ingrassia, menyebutkan bahwa dampak ini bisa meluas jika harga energi tetap tinggi. Pembukaan kembali jalur Selat Hormuz diharapkan dapat menstabilkan pasokan energi, meski membutuhkan waktu.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·