PROKALTENG.CO-Seorang kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah bernama Ashari, 52, akhirnya ditangkap polisi setelah diduga mencabuli puluhan santriwatinya.
Ashari diamankan Satreskrim Polresta Pati saat bersembunyi di Masjid Agung Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada Kamis (7/5) sekitar pukul 04.00 WIB.
Aksi bejatnya viral dan menjadi perbincangan di media sosial. Kasatreskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya Wiratama mengatakan pihaknya melakukan pengejaran sejak 4 Mei 2026.
“Kami sudah melakukan pengejaran sejak tanggal 4 Mei. (Setelah ditangkap di Wonogiri, Ashari) akan kami bawa ke Mapolresta Pati,” ujar Kompol Dika, dikutip dari Jawa Pos Radar Pati, Kamis (7/5).
Selama buron, Ashari terus berpindah lokasi untuk mengelabui aparat. Hal ini membuat polisi kesulitan melacak keberadaannya karena tersangka kerap berpindah kota hingga lintas provinsi.
Pergerakan Ashari terdeteksi mulai dari Kudus (Jawa Tengah) menuju Bogor (Jawa Barat), lalu berpindah ke Jakarta dan Solo (Jawa Tengah). Polisi akhirnya berhasil menangkapnya di Kabupaten Wonogiri.
“AS sempat ke Kudus kemudian Bogor, lanjut Jakarta, habis itu ke Solo kemudian Wonogiri,” imbuhnya. Setelah ditangkap, aparat langsung membawa Ashari ke Mapolresta Pati untuk pemeriksaan lanjutan.

Kronologi singkat
Kasus dugaan pencabulan di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Kabupaten Pati, yang dilakukan oleh oknum kiai bernama Ashari, ramai diperbincangkan publik.
Jumlah korban disebut mencapai 30 – 50 santriwati. Kasus ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2024, namun proses hukum dihentikan karena ada upaya damai dan sepakat diselesaikan secara kekeluargaan.
Kuasa hukum korban, Ali Yusron, mengungkapkan bahwa hingga saat ini secara resmi baru ada delapan korban yang berani melaporkan kelakukan oknum kiai. Namun, keterangan saksi menyebut ada 30-50 korban.
“Berdasarkan informasi yang kami himpun, korbannya lebih dari delapan orang. Sebagian besar berasal dari wilayah Rembang. Banyak yang belum berani bicara karena takut kualat kepada kiainya,” ujarnya.
Pelaku diduga memanfaatkan posisinya sebagai guru di pondok pesantren. Ia disebut menanamkan doktrin agar santriwati patuh sehingga korban takut melawan perintahnya, apalagi melapor. (jpg)
PROKALTENG.CO-Seorang kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah bernama Ashari, 52, akhirnya ditangkap polisi setelah diduga mencabuli puluhan santriwatinya.
Ashari diamankan Satreskrim Polresta Pati saat bersembunyi di Masjid Agung Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada Kamis (7/5) sekitar pukul 04.00 WIB.
Aksi bejatnya viral dan menjadi perbincangan di media sosial. Kasatreskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya Wiratama mengatakan pihaknya melakukan pengejaran sejak 4 Mei 2026.

“Kami sudah melakukan pengejaran sejak tanggal 4 Mei. (Setelah ditangkap di Wonogiri, Ashari) akan kami bawa ke Mapolresta Pati,” ujar Kompol Dika, dikutip dari Jawa Pos Radar Pati, Kamis (7/5).
Selama buron, Ashari terus berpindah lokasi untuk mengelabui aparat. Hal ini membuat polisi kesulitan melacak keberadaannya karena tersangka kerap berpindah kota hingga lintas provinsi.
Pergerakan Ashari terdeteksi mulai dari Kudus (Jawa Tengah) menuju Bogor (Jawa Barat), lalu berpindah ke Jakarta dan Solo (Jawa Tengah). Polisi akhirnya berhasil menangkapnya di Kabupaten Wonogiri.
“AS sempat ke Kudus kemudian Bogor, lanjut Jakarta, habis itu ke Solo kemudian Wonogiri,” imbuhnya. Setelah ditangkap, aparat langsung membawa Ashari ke Mapolresta Pati untuk pemeriksaan lanjutan.
Kronologi singkat
Kasus dugaan pencabulan di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Kabupaten Pati, yang dilakukan oleh oknum kiai bernama Ashari, ramai diperbincangkan publik.
Jumlah korban disebut mencapai 30 – 50 santriwati. Kasus ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2024, namun proses hukum dihentikan karena ada upaya damai dan sepakat diselesaikan secara kekeluargaan.
Kuasa hukum korban, Ali Yusron, mengungkapkan bahwa hingga saat ini secara resmi baru ada delapan korban yang berani melaporkan kelakukan oknum kiai. Namun, keterangan saksi menyebut ada 30-50 korban.
“Berdasarkan informasi yang kami himpun, korbannya lebih dari delapan orang. Sebagian besar berasal dari wilayah Rembang. Banyak yang belum berani bicara karena takut kualat kepada kiainya,” ujarnya.
Pelaku diduga memanfaatkan posisinya sebagai guru di pondok pesantren. Ia disebut menanamkan doktrin agar santriwati patuh sehingga korban takut melawan perintahnya, apalagi melapor. (jpg)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·