Prof (Ris) Hermawan 'Kikiek' Sulistyo meluncurkan karya terbarunya yang membedah sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP). Dilansir dari Detikcom, buku bertajuk "Biografi Kebijakan" ini memotret langkah-langkah strategis pimpinan Polri tersebut secara kritis.
Kikiek menegaskan bahwa dirinya tidak menyusun tulisan ini dengan alur linear yang bertele-tele. Penulis yang dikenal ceplas-ceplos ini lebih memilih membawa pembaca memahami LSP melalui berbagai keputusan krusial di tengah tekanan politik dan opini publik.
Analisis yang ditawarkan Kikiek bertindak sebagai 'Devil's Advocate' untuk menghindari kesan glorifikasi atau puja-puji semata. Ia melakukan pengelompokan terhadap Program Presisi secara akademis, menggunakan landasan filosofis dan teori kebijakan yang matang.
Kikiek memiliki latar belakang kuat karena pernah mendampingi enam Kapolri sebelumnya. Rekam jejaknya dalam karya seperti Democratic Policing memberi bobot mendalam pada setiap bedah kasus yang ia sajikan dalam buku setebal 246 halaman ini.
Aspek personal LSP juga disinggung dalam fragmen singkat mengenai disiplin bela diri judo. Kikiek meyakini bahwa keterlibatan aktif sang Kapolri dalam olahraga tersebut turut membentuk ketahanan fisik serta stabilitas mentalnya saat memimpin.
Irjen Pol Krishna Murti memberikan kesaksian mengenai ketangguhan LSP saat menjalani latihan ekstrem. Salah satu momen yang dikenang adalah ketika Listyo Sigit membanting 60 pejudo di Akademi Kepolisian, yang memberikan citra manusiawi bagi sang Jenderal.
Lingkungan sosial-budaya Yogyakarta tempat LSP tumbuh besar dinilai ikut membentuk karakter yang tegas namun empatik. Sosoknya digambarkan mampu bertindak secara terukur tanpa kehilangan kelenturan dalam berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.
"Ia mampu melihat kekuasaan bukan sebagai hak, melainkan sebagai tanggung jawab moral," tulis Kikiek.
Dua bab terakhir buku ini mengulas empat kasus besar yang menjadi ujian terberat bagi kredibilitas Polri. Kasus tersebut meliputi pembunuhan oleh Ferdy Sambo, tragedi Kanjuruhan, kasus narkoba Teddy Minahasa, hingga insiden kerusuhan Agustus 2025.
Keempat peristiwa besar ini sempat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian hingga ke titik terendah. Namun, buku ini mencatat bahwa transparansi dan respons cepat yang konsisten perlahan mampu membangkitkan kembali citra positif Polri.
Saat kerusuhan Agustus 2025 terjadi, LSP mengambil langkah berani dengan tidak menyalahkan personel di lapangan. Ia justru memerintahkan audit komando secara menyeluruh untuk memperbaiki sistem pertanggungjawaban internal institusi.
Kikiek mencatat bahwa pembentukan tim reformasi internal menjadi bukti nyata upaya penguatan profesionalisme. Gaya kepemimpinan yang tenang dan rasional dinilai menjadi kunci dalam meredam polarisasi yang terjadi di tengah publik saat ini.
"Gaya kepemimpinan LSP yang tenang, rasional, dan empatik menciptakan ruang refleksi di tengah polarisasi public," tulis Kikiek.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·