Kisah Diopeni: Mengubah Kain Lurik Jadi Produk Fashion Modern

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemberdayaan UMKM oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menunjukkan dampak nyata melalui kisah sukses brand Diopeni atau Dondomane Handmade. Usaha ini menjadi salah satu contoh bagaimana sinergi antara pelaku UMKM dan Rumah BUMN BRI mampu mengangkat potensi wastra Nusantara, khususnya kain tenun lurik, ke tingkat yang lebih modern dan bernilai ekonomi tinggi.

Berbasis di Kota Malang, Jawa Timur, Diopeni tidak hanya berfokus pada kegiatan bisnis, tetapi juga membawa misi sosial yang kuat. Usaha ini digerakkan oleh Peni Budi Astuti yang juga merupakan pendiri komunitas “Perempuan Mandiri Sumber Perubahan”. Komunitas tersebut berfokus pada pemberdayaan perempuan, khususnya lansia dan ibu tunggal, agar tetap produktif dan mandiri secara ekonomi.

Sejak berdiri pada 2016, Diopeni tumbuh dari hobi sederhana menjahit tangan atau dondom-dondom menjadi usaha kreatif yang berkembang pesat. Nama Diopeni sendiri memiliki makna filosofis yang dalam, berasal dari gabungan nama pendirinya dan suaminya, sekaligus bermakna “dirawat” dalam bahasa Jawa, mencerminkan filosofi usaha yang penuh ketekunan dan kepedulian.

Saat ini, Diopeni telah berkembang menjadi koperasi dengan sembilan karyawan yang sebagian besar merupakan perempuan berusia 50 hingga 60 tahun serta orang tua tunggal. Model kerja yang diterapkan memungkinkan para pekerja tetap produktif dari rumah, sehingga memberikan fleksibilitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga mereka. Peni Budi Astuti menegaskan pentingnya peran perempuan dalam perekonomian keluarga dengan menyatakan bahwa pemberdayaan bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga kemandirian.

"Perempuan sebaiknya memiliki kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga agar menjadi sosok yang kuat dan tangguh," tegas Peni.

Inovasi Fashion dan Semangat Keberlanjutan

Keunikan Diopeni terletak pada kemampuannya mengubah kain tenun lurik menjadi produk fashion modern. Beragam produk dihasilkan mulai dari daster tunik, kemeja, outer kimono, gamis, babydoll, blazer, hingga baju koko. Setiap produk dibuat secara eksklusif dengan motif yang berbeda, menjadikannya unik dan bernilai tinggi di pasar fashion.

Selain fashion, Diopeni juga menerapkan prinsip keberlanjutan dengan konsep zero waste dan green industry. Limbah kain perca diolah menjadi berbagai produk kreatif seperti sandal, tas, pouch, bantal, hingga gantungan kunci. Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi komunitas.

Usaha ini juga berkembang ke sektor lain melalui pelatihan keterampilan seperti hantaran dan anyaman. Tidak berhenti di situ, Diopeni turut merambah bisnis kuliner dengan menghadirkan “Dapur Bunda Peni” yang menyajikan makanan khas Nusantara seperti gado-gado, ketoprak, tahu telur, dan jus buah segar.

Dukungan BRI Perkuat Transformasi UMKM

Perjalanan pertumbuhan Diopeni tidak terlepas dari peran Rumah BUMN BRI Malang yang telah mendampingi sejak 2017. Bagi Peni, Rumah BUMN bukan sekadar tempat pelatihan, tetapi ruang kolaborasi yang membantu pelaku UMKM untuk naik kelas secara berkelanjutan. Ia menilai pelatihan yang diberikan sangat komprehensif karena mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan usaha mulai dari tata kelola keuangan hingga legalitas.

"Di BRI, wadahnya benar-benar nyata. Pelatihannya sangat lengkap karena menyesuaikan kebutuhan UMKM, mulai dari cara tata kelola keuangan, business plan, hingga strategi pemasaran di media sosial. Bahkan, kami difasilitasi pengurusan legalitas seperti sertifikasi Halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara gratis," jelas Peni.

Selain sebagai peserta pelatihan, Peni juga dipercaya menjadi pemateri bagi UMKM lain, menunjukkan bahwa dampak pemberdayaan BRI bersifat berlapis dan berkelanjutan. Hal ini memperkuat ekosistem UMKM yang saling mendukung dan berkembang bersama.

Dukungan BRI juga hadir melalui akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Peni telah memanfaatkan fasilitas ini sebanyak dua kali untuk memperkuat pengembangan usahanya. Dana tersebut digunakan secara strategis, termasuk untuk membangun mini galeri di rumahnya yang kini menjadi pusat display produk Diopeni.

Keberadaan mini galeri tersebut terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen. Banyak pelanggan datang langsung untuk melihat koleksi produk, bahkan dalam rombongan besar. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman offline masih memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan terhadap brand UMKM. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI dirancang sebagai platform kolaboratif untuk memperkuat kapasitas UMKM agar berdaya saing global.

"Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar. Kisah pelaku usaha Diopeni jadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha lainnya di berbagai daerah," pungkas Akhmad.

Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM. Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar dalam memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan berbasis usaha mikro dan kecil.