JARUM jam belum menunjukkan pukul empat pagi ketika Eka Hardiyanti meninggalkan rumah. Sebagian orang bahkan masih terlelap di kasur empuknya untuk merehatkan badan.
Namun tidak dengan Eka, perempuan 35 tahun ini sudah tampil menawan dengan seragam merahnya. Tanda bahwa ia siap mengawali perjalanan menyusuti setiap sudut Kota Pahlawan dengan Suroboyo Bus.
Di balik kemudi bus berukuran besar, Eka tak hanya membawa penumpang menuju tujuan. Ia juga membawa cerita tentang perempuan yang berani menembus batas profesi maskulin yang lama didominasi laki-laki
Setiap pintu terbuka, senyum ramah Eka menyambut penumpang yang naik. Kehadirannya di kursi pengemudi kerap menghadirkan kejutan kecil bagi warga yang tak menyangka bus dikendalikan perempuan.
Perjalanan Eka menjadi pengemudi Suroboyo Bus tidak lah singkat. Sebelum mengemudikan bus kota, ia lebih dulu meniti karier sebagai sopir taksi hingga peluang menjadi pengemudi perempuan Surabaya Bus di depan mata.
“Saya coba, dan alhamdulillah diterima. Setelah melalui serangkaian tes serta masa pendampingan, akhirnya saya dipercaya mengemudi secara mandiri,” ucap Eka dengan raut wajah semringah, Selasa (21/4).
Waktu pun berlalu dengan cepat. Tanpa sadar ternyata sudah hampir 6 tahun Eka menjalani profesi sebagai sopir Surabaya Bus sejak 2020. Asam garam kehidupan pun sudah dicicipi oleh ibu dengan satu anak ini.

Seperti pada masa awal, Eka harus beradaptasi dengan tantangan baru. Ukuran kendaraan Surabaya Bus yang lebih besar dan kebutuhan memahami rute perjalanan, menjadi hal yang harus ia kuasai perlahan.
“Rasanya seperti jalan-jalan, tetapi dibayar. Alhamdulillah lingkungan kerjanya suportif, rekan kerja solid, dan penumpangnya ramah-ramah, sehingga saya betah dan menjalaninya enjoy,” celetuknya dengan nada penuh syukur.
Di tengah rutinitasnya, Eka tetap menjalankan peran sebagai ibu. Ia masih menyempatkan mengantar anaknya sebelum bekerja, sembari menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan profesi.
Meski sempat diremehkan karena gendernya sebagai perempuan, Eka menuturkan saat ini keberadaannya diterima. Tak jarang pujian dan kata penyemangat ia terima dari para penumpang.
“Awal-awal memang ada yang meragukan, seperti ‘perempuan kok jadi sopir bus’, tetapi sekarang alhamdulillah justru banyak yang mendukung, bahkan ada yang tertarik (ingin) ikut jadi sopir bus,” tutur Eka.
Apalagi di Surabaya, Eka Hardiyanti masih menjadi satu-satunya sopir bus perempuan. Bagi Eka, kondisi ini justru menjadi dorongan positif untuk membuka jalan bagi lebih banyak perempuan di ruang publik.
Di momen peringatan Hari Kartini, kisah Eka menjadi potret nyata bahwa emansipasi perempuan terus bergerak. Ia bukan hanya mengemudi bus, tetapi juga menembus batas profesi yang selama ini identik dengan laki-laki.
“Semangat R.A. Kartini tidak hanya sebatas simbol, tetapi diwujudkan dalam keberanian mengambil peluang dan terus berkarya. Kartini itu berani dan menginspirasi, perempuan harus terus maju,” tukasnya. (jpc)
JARUM jam belum menunjukkan pukul empat pagi ketika Eka Hardiyanti meninggalkan rumah. Sebagian orang bahkan masih terlelap di kasur empuknya untuk merehatkan badan.
Namun tidak dengan Eka, perempuan 35 tahun ini sudah tampil menawan dengan seragam merahnya. Tanda bahwa ia siap mengawali perjalanan menyusuti setiap sudut Kota Pahlawan dengan Suroboyo Bus.
Di balik kemudi bus berukuran besar, Eka tak hanya membawa penumpang menuju tujuan. Ia juga membawa cerita tentang perempuan yang berani menembus batas profesi maskulin yang lama didominasi laki-laki

Setiap pintu terbuka, senyum ramah Eka menyambut penumpang yang naik. Kehadirannya di kursi pengemudi kerap menghadirkan kejutan kecil bagi warga yang tak menyangka bus dikendalikan perempuan.
Perjalanan Eka menjadi pengemudi Suroboyo Bus tidak lah singkat. Sebelum mengemudikan bus kota, ia lebih dulu meniti karier sebagai sopir taksi hingga peluang menjadi pengemudi perempuan Surabaya Bus di depan mata.
“Saya coba, dan alhamdulillah diterima. Setelah melalui serangkaian tes serta masa pendampingan, akhirnya saya dipercaya mengemudi secara mandiri,” ucap Eka dengan raut wajah semringah, Selasa (21/4).
Waktu pun berlalu dengan cepat. Tanpa sadar ternyata sudah hampir 6 tahun Eka menjalani profesi sebagai sopir Surabaya Bus sejak 2020. Asam garam kehidupan pun sudah dicicipi oleh ibu dengan satu anak ini.
Seperti pada masa awal, Eka harus beradaptasi dengan tantangan baru. Ukuran kendaraan Surabaya Bus yang lebih besar dan kebutuhan memahami rute perjalanan, menjadi hal yang harus ia kuasai perlahan.
“Rasanya seperti jalan-jalan, tetapi dibayar. Alhamdulillah lingkungan kerjanya suportif, rekan kerja solid, dan penumpangnya ramah-ramah, sehingga saya betah dan menjalaninya enjoy,” celetuknya dengan nada penuh syukur.
Di tengah rutinitasnya, Eka tetap menjalankan peran sebagai ibu. Ia masih menyempatkan mengantar anaknya sebelum bekerja, sembari menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan profesi.
Meski sempat diremehkan karena gendernya sebagai perempuan, Eka menuturkan saat ini keberadaannya diterima. Tak jarang pujian dan kata penyemangat ia terima dari para penumpang.
“Awal-awal memang ada yang meragukan, seperti ‘perempuan kok jadi sopir bus’, tetapi sekarang alhamdulillah justru banyak yang mendukung, bahkan ada yang tertarik (ingin) ikut jadi sopir bus,” tutur Eka.
Apalagi di Surabaya, Eka Hardiyanti masih menjadi satu-satunya sopir bus perempuan. Bagi Eka, kondisi ini justru menjadi dorongan positif untuk membuka jalan bagi lebih banyak perempuan di ruang publik.
Di momen peringatan Hari Kartini, kisah Eka menjadi potret nyata bahwa emansipasi perempuan terus bergerak. Ia bukan hanya mengemudi bus, tetapi juga menembus batas profesi yang selama ini identik dengan laki-laki.
“Semangat R.A. Kartini tidak hanya sebatas simbol, tetapi diwujudkan dalam keberanian mengambil peluang dan terus berkarya. Kartini itu berani dan menginspirasi, perempuan harus terus maju,” tukasnya. (jpc)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·