Kisah komunitas perantauan bangun industri anggur unggulan di Yunnan

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Kunming (ANTARA) - Di sebuah perkebunan buah anggur di Komunitas Tionghoa Perantauan Liujiawan di Provinsi Yunnan, China barat daya, para petani sedang sibuk memetik, memilah, dan mengemas varietas Anggur Hitam Musim Panas yang siap diekspor ke berbagai pasar luar negeri, termasuk ASEAN dan Rusia.

Sebagai permukiman yang dihuni oleh ribuan keturunan Tionghoa perantauan yang kembali ke China beberapa dasawarsa atau lebih yang lalu, Liujiawan menjadi saksi kerja keras para penduduknya selama puluhan tahun demi mengubah lahan gersang menjadi basis industri perkebunan anggur.

Bekerja secara kolektif, mereka membangun saluran irigasi, memperbaiki kondisi tanah, dan mengembangkan lahan pertanian melalui berbagai metode, seperti pengembalian jerami ke lahan (straw returning) dan pembajakan dalam (deep ploughing). Selain teknik-teknik pertanian, mereka juga membawa tradisi budaya, kuliner, dan rumah tangga multibahasa yang terbentuk dari pengaruh Asia Tenggara.

Seiring berkembangnya industri perkebunan anggur, para penduduk berupaya membudidayakan varietas yang lebih unggul dan khas.

Pada 1980-an, mereka mulai bereksperimen dengan varietas anggur impor dan secara bertahap menyesuaikan teknik budi daya dengan kondisi setempat melalui berbagai percobaan.

Setelah kebijakan reformasi dan keterbukaan China, wilayah Binchuan, tempat komunitas ini berada, memperluas industri buah-buahannya, dengan anggur dan jeruk menjadi penggerak utama perekonomian.

Bagi Du Xiaocong, salah satu petani anggur di Liujiawan, keberhasilan ekspor anggur ke Indonesia memiliki makna tersendiri. "Generasi pendahulu saya berasal dari Indonesia, dan kini anggur yang saya tanam dengan tangan saya sendiri bisa 'pulang' ke Indonesia. Ini bagaikan semacam koneksi dengan leluhur, sebuah hal yang ajaib," kata Du.

ANTARA/Xinhua

Setelah berkembang selama puluhan tahun, wilayah Binchuan kini memiliki lebih dari 8.300 mu (sekitar 553 hektare) lahan perkebunan anggur dan juga lahan untuk jeruk serta buah-buahan lainnya. Selain itu, sejumlah merek lokal juga telah terdaftar secara resmi

Pertumbuhan industri didukung oleh perluasan infrastruktur. Binchuan telah membangun lebih dari 1.500 fasilitas penyimpanan dingin serta 60 lebih lini penyortiran dan pengemasan otomatis. Sebuah gudang e-commerce lintas perbatasan di Vietnam juga turut mempercepat proses perizinan bea cukai, sehingga memungkinkan buah-buahan tersebut mencapai pasar ASEAN hanya dalam waktu 12 jam.

ANTARA/Xinhua

Berkat sejumlah keturunan Tionghoa perantauan, Liujiawan memiliki nuansa eksotis yang memadukan unsur budaya dan kuliner khas negara-negara Asia Tenggara, yang memikat banyak wisatawan. Kini, industri pariwisata setempat berpadu dengan sektor pertanian menjadi ekowisata, membuat komunitas ini semakin terkenal dan meningkatkan pendapatan para penduduk.

"Rantai dingin yang sudah mapan dan promosi produk melalui siaran langsung (live-streaming) mendorong anggur Binchuan terjual ke pasar yang lebih luas. Kita dapat melihat lebih banyak generasi muda mulai berkecimpung dalam industri anggur di sini, dan kehidupan warga pun menjadi semakin baik," kata Wang Tao, seorang pejabat setempat, kepada wartawan. Selesai

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.