Tur konser perpisahan grup idol legendaris asal Jepang, Arashi, menghasilkan dampak ekonomi sekitar 137,5 miliar yen (sekitar Rp 13,7 T) dari 15 pertunjukan di 5 kota di Jepang. Angka ini diungkap oleh Keizai Koka.NET, website yang khusus menganalisis dampak ekonomi.
Berdasarkan analisa Keizai Koka.NET, langkanya pertunjukan sebelum Arashi mengakhiri aktivitasnya meningkatkan permintaan di seluruh negeri. Arashi mengakhiri aktivitasnya yang telah berjalan selama 26,5 tahun pada akhir Mei lalu dengan menggelar konser di 5 kota di Jepang. Para penggemar berbondong-bondong datang untuk melihat Arashi tampil untuk yang terakhir kalinya.
Dikutip dari The Mainichi, Keizai Koka.NET memperkirakan dampak ekonomi dari seluruh pertunjukan tur dengan menghitung pengurangan langsung seperti pembelian tikeet dan merchandise, serta efek sekunder termasuk operasi tempat pertunjukan dan aktivitas bisnis terkait di kota-kota penyelenggara. Sementara untuk data yang tidak tersedia secara publik, Keizai Koka.NET menghasilkan perkiraan berdasarkan analisisnya terhadap acara musik masa lalu dan aktivitas serupa.
Tur konser perpisahan Arashi berlangsung sejak Maret hingga Mei, dengan 15 pertunjukan yang digelar di Hokkaido, Tokyo, Aichi, Fukuoka, dan Osaka. Jumlah penonton yang datang sekitar 800 ribu orang.
Harga tiket 12.000 yen (sekitar Rp 1,3 juta) termasuk pajak dengan biaya layanan tambahan, sehingga pendapatan tiket diperkirakan mencapai 10,9 miliar yen (sekitar Rp 1,21 T). Konser terakhir disiarkan secara langsung (live streaming) dengan tiket menonton mulai dari 3.900 yen (sekitar Rp 435 ribu). Dengan memperkirakan jumlah anggota fanclub sebanyak 2 juta dan dengan asumsi semua menonton live streaming, Keizai Koka.NET memperkirakan pendapatan live streaming sebesar 7,6 miliar yen (sekitar Rp 846,85 miliar).
Penjualan merchandise resmi yang dijual di tempat konser juga menyumbang sebagian besar pengeluaran. Permintaan untuk barang-barang eksklusif tur dan barang-barang kenangan sangat kuat. Keizai Koka.NET memperkirakan pengeluaran individu berkisar beberapa ribu yen hingga puluhan ribu yen.
Banyak penggemar yang juga melakukan perjalanan jauh untuk menghadiri konser. Pengeluaran terkait mencakup perkiraan 5,8 miliar yen (sekitar Rp 646,28 miliar) untuk transportasi, 6,7 miliar yen (sekitar Rp 747,83 miliar) untuk akomodasi, dan 4 miliar yen (sekitar Rp 445,61 miliar) untuk makanan dan minuman. Konser Arashi juga mendorong "wisata langsung" atau "live tourism", yaitu saat penggemar melakukan perjalanan ke kota-kota penyelenggara dan menginap di sana sebelum atau sesudah konser sambil menikmati wisata dan kegiatan lokal lainnya.
Efek domino di kota-kota penyelenggara mencapai 75 miliar yen (sekitar Rp 8,35 T) atau lebih dari setengah dari total perkiraan dampak ekonomi. Peningkatan permintaan juga meluas ke bisnis yang terkait dengan operasional tempat acara, keamanan, dan transportasi. Perkiraan tersebut juga memperhitungkan pengeluaran konsumen yang dihasilkan dari pendapatan yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
Kepala peneliti di Keizai Koka.NET sekaligus dosen ekonomi dan pembangunan kota di Tokyo City University, Mitsumasa Eto, mengatakan rata-rata pengeluaran penonton konser -- tidak termasuk livestreaming -- mencapai 61.371 yen (sekitar Rp 6,8 juta). Ia mengatakan skala pengeluaran luar biasa.
"Bahkan dibandingkan dengan konser musik skala besar di masa lalu, tidak ada konser berdurasi 3,5 jam yang menghasilkan tingkat pengeluaran konsumen seperti ini," kata Eto.
"Tur ini memberikan dorongan besar bagi aktivitas ekonomi di dan sekitar kota-kota penyelenggara," lanjutnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·