Korut Uji Rudal Balistik Lagi, Sudah 7 Kali Sepanjang 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Peluncuran uji coba peluncur roket ganda kaliber 600 mm yang diawasi oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Korea Utara pada Sabtu (14/3/2026). Foto: KCNA/via REUTERS

Korea Utara (Korut) kembali menembakkan sejumlah rudal balistik ke arah laut di pantai timurnya pada Minggu (19/4). Peluncuran ini menjadi yang keempat dalam bulan April dan ketujuh sepanjang tahun ini.

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) dan Jepang mengonfirmasi rudal ditembakkan pada Minggu pagi sekitar pukul 06.10 waktu setempat dari wilayah dekat kota Sinpo di pantai timur Korea Utara.

"Militer kami mendeteksi beberapa rudal balistik jarak pendek yang ditembakkan ke Laut Timur dari wilayah Sinpo, Korea Utara, sekitar pukul 06.10 pagi," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, dilansir AFP.

Rudal tersebut dilaporkan terbang sejauh sekitar 140 kilometer, dengan analisis lebih lanjut masih dilakukan oleh otoritas intelijen Korsel dan Amerika Serikat (AS).

Jepang juga mengonfirmasi peluncuran itu dan memastikan tidak ada rudal yang masuk ke zona ekonomi eksklusifnya.

Orang-orang menonton layar televisi yang menampilkan siaran berita dengan cuplikan arsip uji coba rudal Korea Utara, di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada 8 April 2026. Foto: Jung Yeon-je/AFP

Merespons situasi tersebut, kantor kepresidenan Korsel langsung menggelar rapat darurat keamanan. Seoul juga menegaskan tetap menjaga kesiapan pertahanan bersama AS dan siap merespons tegas setiap provokasi dari Korut.

Uji coba ini menambah daftar panjang pengembangan senjata Pyongyang dalam beberapa pekan terakhir, termasuk rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, hingga amunisi cluster.

Pengamat dari Universitas Kyungnam, Lim Eul-chul, menilai momentum global saat ini dimanfaatkan Korea Utara untuk mempercepat penguatan militernya.

"Ketika Amerika Serikat fokus pada Iran, Korea Utara melihat ini sebagai waktu emas untuk meningkatkan kemampuan nuklir dan rudalnya," ujar Lim, dikutip dari Reuters.

Ketegangan juga meningkat setelah pejabat tinggi Korut kembali menyebut Korsel sebagai "negara musuh paling bermusuhan", istilah yang sebelumnya digunakan oleh pemimpin Kim Jong-un.

Rafael Grossi menyampaikan keterangan terkait peningkatan fasilitas nuklir Korut dalam konferensi pers di Seoul, Rabu (15/4/2026). Foto: KIM HONG-JI/AFP

Di sisi lain, Korut terus melanggar sanksi PBB yang melarang pengembangan senjata nuklir dan teknologi rudal balistik.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA), Rafael Grossi, pada Rabu (15/4) memperingatkan adanya peningkatan serius dalam kemampuan Korut memproduksi senjata nuklir. Pihaknya mengonfirmasi kemungkinan penambahan fasilitas baru untuk pengayaan uranium dan reaktor di wilayah Yongbyon.

Sementara itu pada akhir Maret, Kim Jong-un menegaskan status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah dan penguatan nuklir menjadi kunci keamanan nasional.