Fenomena El Nino dan krisis iklim memicu lonjakan cuaca ekstrem serta kebakaran hutan hebat di berbagai belahan dunia pada awal tahun ini. Kondisi tersebut mengancam sistem pertanian global hingga memperparah krisis energi akibat perang di Iran.
Data Global Wildfire Information System yang dilansir dari Bloombergtechnoz pada Selasa (12/5/2026) menunjukkan lebih dari 150 juta hektare lahan hangus terbakar selama empat bulan pertama tahun ini. Angka tersebut setara dengan luas wilayah Alaska atau dua kali lipat rata-rata musiman.
Peneliti cuaca ekstrem dan iklim di Imperial College London, Theodore Keeping, memberikan peringatan mengenai dampak serius dari pola cuaca saat ini. Kondisi tersebut diperparah dengan perkiraan kemunculan fenomena alam di Samudra Pasifik.
"Awal yang cepat ini, ditambah dengan perkiraan El Niño berarti kita akan menghadapi tahun yang sangat parah," kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dan iklim di Imperial College London.
Kebakaran awal musim telah melumpuhkan upaya pemadaman di Cile, Argentina, dan Jepang, serta memicu kebakaran bersejarah di Amerika Serikat dan Asia Tenggara. Selain itu, Institut Perubahan Iklim Universitas Maine mencatat es laut Belahan Bumi Utara berada pada level terendah dengan suhu laut mendekati rekor tertinggi.
Cuaca panas ekstrem juga dilaporkan terjadi di Australia, Greenland, Prancis, hingga Barat Daya AS, sementara Brasil dan Spanyol menghadapi curah hujan bersejarah. Para peramal cuaca di AS memprediksi El Nino akan berkembang kuat antara Juni hingga Agustus mendatang.
Friederike Otto, peneliti iklim di Imperial College London dan pendiri World Weather Attribution, menegaskan bahwa pemanasan akibat aktivitas manusia sudah cukup untuk memicu rekor cuaca baru. Namun, kehadiran fenomena alam tambahan meningkatkan risiko bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Pemanasan yang disebabkan oleh manusia saja kemungkinan sudah cukup untuk memicu rekor cuaca tahun ini, tetapi El Niño meningkatkan “risiko serius” terjadinya cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Friederike Otto, peneliti iklim di Imperial College London dan salah satu pendiri World Weather Attribution, yang menyelenggarakan konferensi pers tersebut.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·