Arus pelayaran di Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti total akibat blokade yang terus berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Jalur air yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut kini terpantau sepi dari aktivitas kapal-kapal besar yang biasanya melintas.
Dilansir dari Money, kebuntuan diplomatik memperparah situasi ini setelah Presiden AS, Donald Trump, membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Pakistan pada Minggu (26/4/2026). Penolakan tersebut dilakukan karena tawaran dari pihak Iran dianggap belum mencukupi.
"Iran telah menawarkan banyak hal, tetapi belum cukup," ujar Presiden Donald Trump dikutip dari Money.
Merespons tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi blokade militer dan ekonomi tersebut. Pezeshkian menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tunduk pada intimidasi pihak asing dalam proses perundingan.
"Negara kami tidak akan masuk dalam negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade," kata Masoud Pezeshkian.
Ia juga menambahkan pandangannya mengenai pemulihan hubungan bilateral kedua negara yang sedang memanas. Menurut Pezeshkian, kepercayaan tidak akan pulih tanpa penghentian tindakan permusuhan.
Data pemantauan laut menunjukkan penurunan drastis volume kendaraan air di kawasan tersebut hingga Minggu pagi. Tercatat hanya ada satu kapal kargo kecil asal Thailand yang keluar dari Teluk Persia, serta satu tanker bahan kimia dari arah berlawanan.
Kelumpuhan ini menyusul insiden penembakan kapal oleh patroli Iran serta tindakan pencegatan yang dilakukan militer AS terhadap armada yang terkait dengan Teheran. Kapal kargo Mayuree Naree bahkan dilaporkan terbakar pada Maret lalu akibat konflik bersenjata ini.
Penumpukan Minyak di Kapal Tanker
Meskipun jalur distribusi terkunci, aktivitas pemuatan minyak mentah di terminal-terminal Iran tetap berjalan masif. Citra satelit memperlihatkan sedikitnya 19 kapal tanker raksasa bersandar dan berlabuh di sekitar terminal Pulau Kharg tanpa kepastian jadwal keberangkatan.
Kondisi serupa terjadi di dekat perbatasan Pakistan, tepatnya di perairan Chabahar. Penumpukan ini merupakan dampak langsung dari langkah Angkatan Laut AS yang mencegah kapal-kapal terkait Iran untuk keluar menuju Teluk Oman.
Pada Sabtu (25/4/2026), kapal M/V Sevan yang masuk dalam daftar sanksi berhasil dicegat di Laut Arab. Beberapa armada lain juga dilaporkan dipaksa memutar balik atau menjalani pemeriksaan ketat saat melintasi wilayah Asia.
Sanksi untuk Pembeli Minyak Iran
Pemerintah AS memperketat isolasi ekonomi dengan menjatuhkan sanksi kepada Hengli Petrochemical Refinery Co., salah satu kilang swasta terbesar di China. Langkah ini diambil sebagai konsekuensi atas aktivitas pembelian minyak dari Iran yang dilakukan perusahaan tersebut.
Di tengah tekanan ini, beberapa kapal memilih untuk mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) guna menghindari deteksi radar blokade. Praktik mematikan sinyal ini biasanya dilakukan saat keluar dari Teluk Persia hingga kapal mendekati Selat Malaka.
Hingga saat ini, hanya jalur sempit di wilayah utara dekat Pulau Larak dan Qeshm yang masih menunjukkan pergerakan kapal dengan sinyal aktif. Pemantauan intensif terus dilakukan di Teluk Oman hingga Laut Merah untuk memverifikasi pergerakan nyata kapal-kapal di tengah manipulasi sinyal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·