Washington (ANTARA) - Penciptaan lapangan kerja sektor swasta Amerika Serikat (AS) pada April 2026 melampaui perkiraan para ekonom, menurut data dari ADP yang dipublikasikan pada Rabu (6/5).
Perusahaan pengelola penggajian tersebut melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan menambah 109.000 pekerjaan pada April, naik dari 61.000 pada Maret, melampaui estimasi Dow Jones sebanyak 84.000.
Data pada April itu merupakan yang terbaik yang dilaporkan ADP sejak Januari tahun lalu.
Sebagian besar penciptaan lapangan kerja terbatas pada beberapa kategori utama, yang mengindikasikan bahwa meskipun perekrutan secara keseluruhan stabil, distribusinya tidak merata di semua sektor ekonomi AS.
Sektor layanan kesehatan dan pendidikan mencatat kenaikan terbesar dengan tambahan 61.000 pekerjaan baru. Sektor utilitas, perdagangan, dan transportasi menambah 25.000 pekerjaan. Sektor konstruksi menambah 10.000 pekerja baru, sementara aktivitas keuangan menambah 9.000 pekerjaan.
Upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur melalui tarif menunjukkan peningkatan moderat, dengan tambahan 2.000 pekerja baru. Sektor layanan informasi serta rekreasi dan perhotelan masing-masing menambah 4.000 pekerjaan. Sementara itu, sektor jasa profesional dan bisnis kehilangan 8.000 pekerjaan.
Berdasarkan skala, perusahaan dengan kurang dari 50 karyawan menciptakan 65.000 pekerjaan, sedangkan perusahaan dengan 500 pekerja atau lebih menambah 42.000 pekerjaan.
"Perusahaan kecil dan besar sama-sama merekrut pekerja, tetapi kami melihat pelemahan di kelompok menengah," kata Kepala Ekonom ADP Nela Richardson, seperti dikutip CNBC.
"Perusahaan besar memiliki sumber daya untuk dikerahkan, sementara perusahaan kecil adalah yang paling lincah, dan keduanya merupakan keunggulan penting dalam lingkungan ketenagakerjaan yang kompleks."
Meskipun data yang tercatat melampaui perkiraan, hasilnya masih sejalan dengan apa yang disebut pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sebagai pasar kerja dengan perekrutan rendah, pemutusan kerja rendah. Perusahaan enggan melakukan pemutusan hubungan kerja, tetapi juga mengurangi perekrutan.
Sementara itu, The Fed terus mengambil sikap menunggu dan melihat situasi terkait pemangkasan suku bunga, dan banyak ekonom tidak memperkirakan adanya penurunan suku bunga dalam waktu dekat karena kekhawatiran terhadap inflasi di tengah perang Iran.
Pasar saham AS kini dengan penuh antisipasi menantikan laporan pengangguran yang akan dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja pada Jumat (8/5). Para ekonom memprediksi pertumbuhan pekerjaan sebanyak 55.000, dengan tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di angka 4,3 persen.
Laporan pengangguran pemerintah yang akan dirilis pada Jumat mencakup pekerjaan sektor pemerintah, sedangkan data ADP hanya memperhitungkan pekerjaan di sektor swasta. Selain itu, ADP cenderung lebih berfokus pada perusahaan kecil dan menengah.
Semua ini terjadi menjelang pemilihan umum (pemilu) sela pada November mendatang, di mana Partai Republik yang sedang berkuasa diperkirakan tidak akan meraih hasil baik, mengingat tingginya biaya perumahan dan pangan serta kecemasan terhadap dampak ekonomi dari konflik Iran.
Para ahli mengatakan bahwa lapangan kerja dan ekonomi akan menjadi isu utama dalam pemilu mendatang.
"Masyarakat khawatir tentang pekerjaan mereka, jadi itu akan menjadi isu dalam pemilu mendatang. Angka pengangguran memang belum banyak meningkat, tetapi kecemasan pribadi cukup tinggi. Banyak orang bertanya-tanya apakah AI akan mengambil alih pekerjaan dan bagaimana perekonomian secara keseluruhan akan terdampak oleh perang Iran dan kondisi ekonomi umum," ujar Darrell West, senior fellow di Brookings Institution, kepada Xinhua.
Namun, para ahli lainnya menyampaikan skenario di mana Partai Republik tampil baik dalam pemilu.
"Jika kita berasumsi bahwa penciptaan lapangan kerja tetap berada di sekitar 100.000 per bulan hingga November, itu akan membantu Partai Republik. Pada saat yang sama, biaya hidup adalah hal yang paling meresahkan para pemilih, dan hanya sedikit orang yang ingin mengambil risiko berpindah pekerjaan untuk memperbaiki situasi mereka," ujar Clay Ramsay, peneliti di Pusat Studi Internasional dan Keamanan di Universitas Maryland, kepada Xinhua.
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·