Lapas Tangerang produksi bahan konstruksi bernilai ekonomi

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten, memproduksi bahan konstruksi bernilai ekonomi melalui program hilirisasi industri berbasis pemanfaatan limbah sisa pembakaran batu bara (fly ash and buttom ash/FABA).

Kepala Lapas Tangerang Beni Hidayat ditemui di Tangerang, Selasa, mengatakan program pembinaan produktif ini melibatkan 72 warga binaan dalam memproduksi bahan konstruksi seperti paving block, bataton press, roster, pagar panel, modul rumah, hingga 'tetrapod' pemecah ombak.

"Keunggulan utama dari produk ini terletak pada efisiensi biaya dan waktu konstruksi," kata Beni.

Tetrapod adalah struktur beton berkaki empat yang berfungsi sebagai pemecah gelombang (breakwater).

Dia menjelaskan, bahan konstruksi yang diproduksi di Lapas Tangerang itu dibina oleh Jawara Beton dengan memanfaatkan limbah pembakaran batu bara dari PLTU yang dikelola oleh PLN (Persero).

Baca juga: Napi Lapas Tangerang produksi 10.000 paving block per hari

Program ini diinisiasi oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dan Direktur Utama PLN (Persero) pada 2025.

Sejak saat ini produksi bahan konstruksi berjalan hingga kini mutu bahan bangunan yang dihasilkan Jawara Beton telah menembus pasar properti nasional yang diserap langsung oleh pengembang besar seperti PT Summarecon Agung Tbk.

Bahan konstruksi Jawara Beton telah digunakan dalam proyek pembangunan fisik perumahan ASN Kementerian Imipas di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.

Menurut Beni, karena memanfaatkan limbah, harga jual produk Jawara Beton mampu ditekan hingga 10 persen lebih rendah dibanding harga produk konvensional di pasaran.

Pada aspek pembangunan fisik, jika struktur rumah biasa memakan waktu 15 hingga 20 hari, namun struktur rumah yang dikembangkan oleh Jawara Beton Lapas Tangerang hanya memakan waktu delapan hingga 15 jam selesai.

Baca juga: Lapas Tangerang latih warga binaan buat bahan bangunan berkualitas

"Untuk struktur, fondasi, tiang-tiang, rangka, kolom semua sudah tersedia. Dan bisa disesuaikan dengan desain yang dimiliki konsumen mau tipe berapa rumahnya, sampai 78 kami punya, bertingkat pun bisa, maksimal tingkat dua," katanya.

Guna menjamin daya saing di pasar, Lapas Tangerang secara periodik sebulan sekali menguji kekuatan mekanis produknya di Laboratorium PT WIjaya Karya (WIKA) hingga mengantongi standarisasi mutu beton K300 yang kokoh.

Terkait keterlibatan warga binaan, Beni menjelaskan ada 1.500 warga binaan di Lapas Tangerang, hanya 72 orang yang dilibatkan dalam program Jawara Beton.

Mereka yang terlibat telah melewati proses asesmen ketat dan pelatihan vokasi bersama instruktur dari PLTU, WIKA serta HSP Akademi.

Beni menegaskan, edukasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi warga binaan agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi di lingkungan sekitar setelah bebas kelak.

Baca juga: Anggota DPR kunjungi LPKA Tangerang: Kalian tetap punya masa depan

Pembinaan produktif ini menjadi salah satu wujud implementasi 15 program aksi Kementerian Imipas.

Dalam program ini Lapas Tangerang menerapkan sistem premi kerja yang adil sebagai apresiasi terhadap 72 warga binaan yang terlibat. Mereka mendapatkan premi seperti upah Rp2.000 per baki (tray) hasil produksi paving block.

Skema pencairannya dibagikan secara proporsional demi masa depan warga binaan.

"Sebesar 50 persen dapat diambil langsung untuk kebutuhan harian di dalam lapas, 50 persen sisanya otomatis disisihkan ke dalam tabungan mereka sebagai modal memulai hidup baru," kata Beni.

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.