Lebih dari 10.000 Umat Buddha Rayakan Waisak di Wihara Ekayana Arama

Sedang Trending 47 menit yang lalu

Lebih dari 10.000 umat Buddha memadati Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, untuk mengikuti rangkaian prosesi perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE pada Minggu (31/5/2026). Prosesi keagamaan yang berlangsung khidmat dari pagi hingga sore hari tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, dilansir dari Detikcom.

Para relawan dan panitia di lokasi tampak melaksanakan pelimpahan jasa sebagai wujud syukur atas kelancaran rangkaian acara. Rangkaian ritual keagamaan tersebut telah dimulai sejak pagi hari dengan melaksanakan tradisi pindapata dan dilanjutkan dengan puja bakti Waisak.

"Pelimpahan jasa dan wujud syukur karena kami semua yang tergabung dalam panitia diberikan kesempatan hari ini untuk melayani orang. Jadi kami hari ini berkumpul untuk bersuka cita dan bersyukur atas kesempatan yang kami bisa lakukan dari pagi sampai sore hari," ujar Pengurus Dewan Pembina Panitia Waisak Wihara Ekayana Arama, Febrian.

Pihak panitia menjelaskan bahwa umat Buddha yang hadir datang untuk melaksanakan puja bakti serta memperingati Hari Tri Suci Waisak. Setelah puja bakti selesai, seluruh jemaat bersiap untuk memasuki tahapan meditasi dalam momen detik-detik Waisak.

"Dimulai pagi tadi, tadi jam 07.15 sampai jam 08.30 itu dimulai dengan prosesi pindapata. Kemudian jam 09.00 sampai jam 11.30 itu ada puja bakti Waisak, di mana pesan Waisak disampaikan oleh Bhante Dharmavimala Mahathera selaku wakil kepala Wihara Ekayana sekaligus pendiri dari Wihara Ekayana Arama," kata Febrian.

Suasana hening diciptakan secara bersama-sama oleh seluruh umat Buddha yang hadir menjelang sore hari. Momen ini dimanfaatkan para peserta untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur ajaran dharma.

"Untuk jumlahnya sendiri, hari ini lebih dari 10 ribu umat Buddha yang melakukan puja bakti atau memperingati Hari Tri Suci Waisak di Wihara Ekayana Arama," sambung Febrian.

Melalui keheningan tersebut, umat Buddha diharapkan dapat melatih kesadaran diri yang lebih mendalam. Keadaan tenang ini diwujudkan dalam bentuk duduk bersama seperti melakukan meditasi.

"Kalau detik-detik Waisak jatuhnya itu kurang lebih pukul 15.45. Ini nanti kondisinya adalah kita sama-sama tenang, semua tenang, meresapi nilai-nilai agama Buddha atau dharma supaya kita semua menjadi orang yang lebih sadar. Jadi momen ini menjadikan momen untuk hening. Kemudian dengan duduk tenang kalau dalam ininya adalah seperti meditasi," kata Febrian.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri, dan Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi terpantau turut hadir di lokasi perayaan. Menag menyampaikan rasa sukacita serta apresiasinya atas nilai perdamaian yang dipraktikkan oleh umat Buddha.

"Kemudian tadi ada kehadiran dari Menteri Agama, beliau menyampaikan bahwa dia juga bersukacita melihat begitu banyaknya umat Buddha karena ajaran Buddha sendiri mengajarkan kita untuk selalu eling atau sadar. Dan sadar ini membuat kita semua bisa berdamai dengan diri sendiri, sehingga ketika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, maka dia akan membawa kedamaian bagi masyarakat, dan bahkan bagi negaranya," kata Febrian.

Selain Menag, Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri juga memberikan pesan mendalam mengenai cinta kasih. Pesan humanis tersebut menekankan pentingnya menjadi pelita yang menerangi sesama tanpa membeda-bedakan.

"Bapak Kapolda tadi menyampaikan mengenai 'Kasih yang mulia tidak menakar kelayakan, ia hadir dan menyinari, sebagaimana cahaya tidak pernah memilih yang akan diteranginya.' Jadi pesan-pesan ini menjadi pesan perdamaian dan sangat humanis kalimatnya, membuat kita terus belajar untuk menjadi orang yang penuh keceriaan, penuh cinta kasih, dan siap menjadi pelita bagi semua orang," kata Febrian.

Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi turut melengkapi pesan toleransi dalam perayaan keagamaan tersebut. Pesan tertulis dari Pangdam Jaya menggarisbawahi pentingnya harmoni di tengah perbedaan untuk mencapai tujuan kedamaian yang sama.

"Pesan yang disampaikan tadi adalah kalau dari Pak Pangdam adalah 'Harmoni terwujud ketika setiap pelita dengan cahayanya yang berbeda bersedia menyinari jalan yang sama,'" kata Febrian.