Lega Serie A dan Inter Milan Dorong Reformasi Kompetisi Liga Italia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Presiden Lega Calcio Serie A Ezio Maria Simonelli dan Presiden Inter Milan Beppe Marotta mendesak reformasi menyeluruh terhadap struktur kompetisi sepak bola Italia demi mengatasi kepadatan jadwal dan krisis finansial klub pada April 2026.

Langkah ini mencakup wacana pengurangan jumlah peserta liga dari 20 menjadi 18 tim serta percepatan pembangunan infrastruktur stadion menjelang Euro 2032. Marotta menilai sistem saat ini tidak berkelanjutan karena tingginya angka kegagalan finansial klub dalam dua dekade terakhir.

"Sektor profesional di Italia memiliki jumlah klub dan tim profesional terbanyak, dengan tingkat kegagalan yang sangat tinggi. Lebih dari 100 klub telah bangkrut dalam 25 tahun terakhir." ungkap Beppe Marotta, Presiden Inter Milan sebagaimana dilansir acehground.com.

Kekhawatiran Marotta juga tertuju pada kepadatan jadwal yang sulit dikelola, terutama bagi klub besar yang berlaga di kompetisi Eropa. Ia menegaskan bahwa format 20 tim menghambat fleksibilitas pengaturan ulang laga jika terjadi kendala teknis.

"Ini menunjukkan bahwa tidak ada keberlanjutan yang nyata. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa klub-klub seperti Inter atau Milan harus memenuhi berbagai macam kewajiban; oleh karena itu, memiliki 20 tim berarti memperpadat jadwal resmi." tambah Marotta.

Masalah penjadwalan ini semakin rumit karena tidak adanya celah waktu luang dalam kalender kompetisi. Marotta memberikan ilustrasi mengenai hambatan teknis yang mungkin terjadi di lapangan.

"Jika sebuah pertandingan harus ditangguhkan karena kabut, saat ini kita bahkan tidak akan menemukan tanggal untuk menjadwal ulang pertandingan tersebut. Liga dengan 20 tim bukanlah sesuatu yang dapat dikelola atau dialami dengan baik." pungkas Marotta.

Ezio Maria Simonelli selaku Presiden Lega Calcio Serie A menyatakan bahwa rencana perampingan liga sangat diperlukan meski memicu pro dan kontra. Ia menekankan perlunya koordinasi dengan UEFA dan FIFA karena akar masalah kepadatan laga juga berasal dari penambahan jumlah pertandingan di kompetisi Eropa.

"Jelas bahwa program itu penting, tetapi jika tidak ada orang yang mampu mewujudkannya, program itu hanya akan tertinggal di atas kertas." ujar Ezio Maria Simonelli dilansir dari beritamilan.com.

Simonelli memberikan dukungan penuh kepada Giovanni Malagò sebagai kandidat Presiden FIGC untuk mengeksekusi rencana tersebut. Ia percaya sosok tersebut memiliki kemampuan untuk merealisasikan ide-ide reformasi.

"Saya percaya bahwa Malagò selalu menunjukkan kemampuannya untuk membumikan ide-idenya sendiri maupun ide orang lain." kata Simonelli.

Selain struktur liga, Simonelli menyoroti anomali pajak yang merugikan talenta lokal dan lambatnya pembangunan stadion, termasuk polemik berkepanjangan mengenai San Siro di Milan.

"Tingkat kekhawatiran saya sangat tinggi karena selama 20 tahun tidak ada satu pun hal yang dilakukan." ungkap Simonelli.

Ia memperingatkan bahwa birokrasi yang berbelit akan terus menyulitkan masa depan sepak bola Italia. Simonelli secara khusus menyoroti situasi di San Siro yang meskipun sudah dijual, masih terus menjadi bahan perdebatan.

"Di San Siro, meskipun stadion tersebut pada akhirnya telah dijual kepada Milan dan Inter, masih saja ada diskusi tanpa akhir mengenai segala hal." tambah Simonelli.

Presiden Lega Serie A tersebut menegaskan perlunya segera keluar dari kerumitan regulasi demi menghindari kesulitan yang lebih besar di masa mendatang.

"Selama kita tidak keluar dari rawa peraturan ini, kita akan terus mengalami berbagai macam kesulitan di masa depan." tegas Simonelli.

Di sisi lain, Marotta juga mengomentari hubungan antara klub besar dan kecil dalam sistem liga. Ia memahami adanya kekhawatiran dari klub menengah terkait risiko degradasi jika jumlah peserta dikurangi.

"Ada kekhawatiran di antara klub-klub kecil dan menengah tentang degradasi, tetapi ini adalah situasi yang harus kita tangani dan akomodasi dengan cara sebaik mungkin." ujar Marotta dilansir dari ligaolahraga.com.

Marotta menekankan pentingnya koeksistensi antara klub dengan pendapatan besar dan klub kecil seperti Sassuolo. Menurutnya, semua pihak harus duduk bersama untuk menemukan solusi terbaik bagi sistem sepak bola Italia.

"Saya memahami perbedaan antara klub seperti Sassuolo dan klub seperti kami, yang menghasilkan pendapatan lebih dari 500 juta Euro per tahun. Kita berhadapan dengan sebuah sistem yang membutuhkan koeksistensi yang tepat." jelas Marotta.

Pihak manajemen Inter Milan saat ini juga tengah memfokuskan diri pada gelar juara Liga Italia setelah tersingkir dari Liga Champions. Marotta menyebut kegagalan di Eropa sebagai bagian dari pendewasaan tim.

"Secara matematis memang belum pasti, tapi saya rasa begitu. Kekecewaan di Liga Champions? Mencapai final kompetisi seperti Liga Champions adalah pencapaian yang luar biasa." kata Marotta.

Meskipun kekalahan di Jerman masih membekas, Marotta menginstruksikan para pemain untuk segera beralih fokus ke target domestik. Ia berharap tim dapat segera mengunci gelar Scudetto dalam waktu dekat.

"Tentu saja, malam di Munich masih terpatri dalam benak semua orang karena ada kekecewaan besar. Kita perlu melupakannya dan bermimpi yang berbeda. Saat ini, impian kita adalah tujuan penting yang sudah dekat, jadi kita harus fokus pada hal itu." tutur Marotta.

Dalam kesempatan yang sama, Marotta juga mengonfirmasi status Cristian Chivu sebagai pelatih. Ia menilai Chivu sebagai figur yang tepat untuk membawa Inter Milan berkembang menjadi kekuatan dominan di masa depan.

"Chivu sudah memiliki kontrak, jadi konfirmasinya otomatis. Kami berurusan dengan seorang pelatih yang sepenuhnya sesuai dengan profil yang dicari Inter, dan hari ini dia merupakan titik acuan utama." ujar Marotta.