Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan kewajiban lembaga pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai integritas dalam proses belajar mengajar demi menentukan karakter generasi penerus bangsa pada masa depan. Penegasan ini disampaikan melalui keterangan tertulisnya di Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Penanaman nilai integritas sejak dini merupakan fondasi utama pembangunan karakter anak bangsa," kata Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Langkah strategis ini didukung dengan peluncuran Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Program ini melibatkan kolaborasi bersama Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah diperkenalkan pada Senin, 11 Mei 2026.
Materi ajar yang disediakan mencakup jenjang PAUD hingga SMA/SMK dengan fokus pada lima kompetensi utama. Kompetensi tersebut meliputi ketaatan pada aturan, pemahaman konsep kepemilikan, penjagaan amanah, pengelolaan dilema etis, hingga pembangunan budaya antikorupsi di lingkungan sekolah.
Data dari Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 menunjukkan tantangan besar dengan skor 69,50 dari skala 100, yang menandakan budaya integritas belum konsisten. Temuan di lapangan mengungkap 28 persen sekolah masih melakukan pungutan liar dalam penerimaan siswa baru dan 23 persen lainnya membiarkan kecurangan sertifikasi.
"Temuan di sejumlah lembaga pendidikan yang berbuat curang untuk mendongkrak akreditasi harus segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata," jelas Lestari Moerdijat.
Peningkatan kualitas lembaga pendidikan harus diutamakan oleh para pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah. Lestari menekankan bahwa praktik baik pelayanan masyarakat yang berintegritas harus menjadi prioritas utama agar pendidikan antikorupsi tidak sekadar menjadi wacana seremoni.
"Lembaga pendidikan sebagai institusi penanam nilai-nilai luhur harus dikelola berdasarkan nilai luhur itu sendiri," ujar Lestari Moerdijat.
Proses implementasi penanaman nilai di lapangan diakui sebagai tantangan terbesar dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang bersih. Sinergi seluruh pihak diharapkan mampu mewujudkan lingkungan belajar yang sehat guna mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.
"Sehingga mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia, berkarakter kuat, dan berdaya saing di masa depan," tutup Lestari Moerdijat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·