Banda Aceh (ANTARA) - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengedukasi anak-anak berkebutuhan khusus dalam menangani pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Koordinator kegiatan, Dio Nugraha di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan edukasi P3K kepada anak-anak berkebutuhan khusus tersebut merupakan bagian dari program Language of Visual Expression (LOVE).
Baca juga: FKH USK-ITD UNAIR perkuat riset dan inovasi
"Program ini sebuah inisiatif yang mengeksplorasi titik temu antara seni visual dan empati dalam dunia medis. Program menggunakan bahasa isyarat, yang bertujuan meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama kepada mereka yang berkebutuhan khusus," katanya
Edukasi tersebut dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Banda Aceh yang diikuti 14 murid. Edukasi P3K tersebut melibatkan sebanyak 20 mahasiswa Fakultas USK Banda Aceh.
Ia mengatakan program LOVE dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus, terutama dalam hak kesehatan. Dengan program tersebut diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus mampu memahami bagaimana menanganinya P3K.
"Program tersebut sebagai wadah bagi mahasiswa kedokteran mengasah kepekaan serta kemampuan komunikasi nonverbal," kata Dio Nugraha menyebutkan.
Menurut dia, profesi dokter bukan sekadar tentang diagnosis klinis, juga mengenai kemampuan membaca bahasa visual pasien mulai dari ekspresi emosional hingga penggunaan media visual sebagai instrumen penyembuhan dan edukasi kesehatan yang inklusif.
"Edukasi ini memberikan pemahaman kepada anak berkebutuhan khusus bagaimana memberikan pertolongan pertama. Melalui kegiatan ini, kami ingin melahirkan calon dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mahir mengekspresikan empati melalui media kreatif," katanya.
Baca juga: FKG USK kolaborasi dengan dunia Industri tingkatkan pengetahuan
Baca juga: Tim dosen FKG USK edukasi kesehatan mulut anak-anak pemulung
Wakil Kepala SLB Negeri Banda Aceh Irmayanti mengapresiasi mahasiswa Fakultas Kedokteran USK yang mengedukasi peserta didik untuk memahami dan menangani pertolongan pertama pada kecelakaan.
Ia mengatakan edukasi diikuti 14 peserta didik terdiri atas 11 anak tuna rungu dan tiga anak autis. Edukasi pertolongan pertama pada kecelakaan ini merupakan yang pertama diterima peserta didik di sekolah luar biasa tersebut.
"Kami mendukung dan memberikan respons positif kegiatan tersebut, karena memberi pembelajaran bagi peserta didik, seperti menangani saat mimisan, tersedak, maupun dalam keadaan lainnya," kata Irmayanti.
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·