Pemerintah Iran memutuskan untuk menutup lalu lintas maritim di Selat Hormuz pada Sabtu, 18 April 2026, sebagai bentuk respons terhadap blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) yang masih berlangsung. Langkah ini memicu kekacauan pada jalur distribusi seperlima minyak dan gas dunia serta mengancam prospek perdamaian kedua negara.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, otoritas Iran menyiarkan larangan melintas bagi seluruh kapal komersial tepat satu hari setelah sebelumnya sempat menyatakan akan membuka kembali jalur tersebut. Situasi keamanan di kawasan tersebut dilaporkan memanas setelah sebuah kapal tanker super memberikan laporan mengenai adanya tembakan di sekitar lokasi kejadian.
Ketegangan ini mengguncang optimisme global mengenai berakhirnya perang tujuh minggu yang telah melumpuhkan ekspor energi di Teluk Persia. Penutupan jalur air ini terjadi setelah Iran secara tegas menolak permintaan Amerika Serikat untuk mempertahankan blokade laut hingga adanya penandatanganan kesepakatan resmi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan posisi negaranya terkait aset nuklir yang menjadi poin krusial dalam perundingan konflik ini melalui siaran televisi pemerintah.
"uranium yang diperkaya "sama sucinya bagi kami seperti tanah Iran, dan tidak akan dipindahkan ke manapun dalam keadaan apapun." kata Esmail Baghaei, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Sikap keras Teheran muncul setelah adanya pemboman fasilitas nuklir oleh pihak Amerika Serikat pada tahun lalu yang memaksa material tersebut disimpan jauh di bawah tanah. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan berbeda mengenai perkembangan dialog di antara kedua belah pihak.
"Iran telah setuju untuk menangguhkan program nuklir tanpa batas waktu, dan "sebagian besar poin utama" dalam diskusi dengan negara tersebut telah diselesaikan." ujar Donald Trump, Presiden AS.
Trump juga mengklarifikasi posisi Amerika Serikat terkait tuntutan pencairan dana milik Republik Islam Iran yang selama ini dibekukan oleh pihak Washington. Ia menegaskan tidak akan melepas dana tersebut meskipun Teheran menjadikannya sebagai syarat utama kesepakatan.
"I hanya berpikir itu adalah sesuatu yang seharusnya terjadi. Itu adalah sesuatu yang masuk akal untuk terjadi. Dan saya pikir itu akan terjadi. Kita akan lihat apa yang terjadi," tutur Donald Trump, Presiden AS.
Presiden Trump menambahkan bahwa hasil dari diskusi ini diharapkan dapat mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Iran di masa depan.
"I pikir itu akan sangat bermanfaat. Dan yang utama adalah Iran tidak akan memiliki senjata nuklir." pungkas Donald Trump, Presiden AS.
Di sisi lain, Trump melontarkan peringatan keras mengenai potensi kelanjutan aksi militer jika gencatan senjata yang berlangsung saat ini tidak diperpanjang pada pekan depan.
"Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, jadi Anda memiliki blokade, dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," kata Donald Trump, Presiden AS.
Laporan dari Bloomberg Economics yang disusun oleh Jennifer Welch bersama tim analis lainnya menilai bahwa stabilitas dari setiap kesepakatan yang mungkin tercapai dalam waktu dekat akan bersifat sangat terbatas.
“Meskipun kesepakatan tampaknya sudah di depan mata yang dapat mengakhiri babak permusuhan AS-Iran saat ini dan meringankan pasar energi, hal itu kemungkinan tidak akan menghasilkan perdamaian penuh atau abadi,” tulis Jennifer Welch, Analis Bloomberg Economics.
Para analis juga memberikan catatan mengenai kerentanan situasi geopolitik di kawasan Teluk yang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Kami menilai kesepakatan apa pun akan terbatas dan fragil.” tulis Jennifer Welch, Analis Bloomberg Economics.
Kondisi di lapangan menunjukkan ketidakpastian setelah Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal tanker didekati oleh kapal bersenjata Korps Garda Revolusi Islam. Sementara itu, harga minyak mentah Brent sempat anjlok 9% ke level 90 dolar AS per barel pada hari Jumat karena ekspektasi pasar terhadap perdamaian sebelum penutupan jalur kembali terjadi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·