Legenda AC Milan Marco Simone menyatakan kekagumannya terhadap proyek sepak bola Como 1907 yang dinilai lebih layak mengamankan tiket Liga Champions musim depan dibandingkan mantan klubnya dan Juventus pada Selasa (12/5/2026). Tim asuhan Cesc Fabregas tersebut kini telah mengunci posisi enam besar di klasemen sementara Liga Italia.
Hingga pekan ke-36, klub milik Grup Djarum tersebut telah mengumpulkan 65 poin dan hanya selisih dua angka dari AC Milan di posisi keempat serta tiga angka dari Juventus di peringkat ketiga. Como menyisakan dua laga penentu untuk memastikan apakah mereka akan berlaga di Liga Champions atau Liga Europa.
"Untuk kualitas permainan dan proyeknya, ya," ujar Marco Simone saat ditanya mengenai kelayakan Como menembus kompetisi tertinggi Eropa tersebut.
Simone menekankan bahwa keberhasilan tim yang baru promosi musim lalu ini tidak lepas dari strategi manajemen dalam membangun skuad. Pria yang kini melatih tim putri Monaco United tersebut melihat adanya visi yang transparan dalam pengelolaan klub asal Lombardia itu.
"Mereka berinvestasi dengan cara yang seimbang, tetapi dengan proyek yang jelas dan mudah dipahami," ucap Simone.
Lebih lanjut, ia memberikan kritik tajam terhadap manajemen internal dan performa teknis AC Milan saat ini. Menurutnya, filosofi yang diterapkan oleh manajemen Como jauh lebih konsisten dibandingkan dua raksasa Italia lainnya.
"Dari cara mereka menjalankan filosofi mereka, mereka lebih layak pergi ke Liga Champions daripada Milan dan Juventus," ucap Simone.
Mantan penyerang yang memenangkan dua trofi Liga Champions itu menilai identitas AC Milan sedang memudar. Rossoneri tercatat hanya mampu meraih dua kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir mereka di kompetisi domestik.
"Milan bukan lagi Milan, status, sejarah, kebesaran nama, semua komponen yang sudah tidak lagi terasa di lapangan." ujar Simone.
Ia menyoroti seringnya terjadi perubahan struktur kepemimpinan di dalam internal klub yang menyebabkan ketidakstabilan prestasi. Simone juga mengkritik komposisi pemain saat ini yang dianggapnya minim karakter kuat khas klub Merah Hitam.
"Ini harus segera diperbaiki, karena hal ini sudah terjadi selama beberapa tahun dengan terlalu banyak perubahan di dalam klub, dengan presiden dan direktur yang absen." ucap Simone.
Dalam pengamatannya, hanya Luka Modric yang dianggap memiliki wibawa dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memimpin tim di lapangan hijau. Ia menuntut adanya perbaikan menyeluruh baik dari sisi manajemen maupun pemilihan pemain di bursa transfer.
"Lalu tim juga seharusnya memiliki lebih banyak pemain penting, pemain khas Milan, bukan hanya penyerangnya." kata Simone.
Simone kembali menegaskan perlunya figur berkarisma besar dalam skuad untuk mengembalikan kejayaan klub. Ia merasa standar kualitas pemain di Milan saat ini belum memenuhi ekspektasi sejarah klub tersebut.
"Hanya Modric yang memiliki karisma tertentu, dengan status tertentu. Dibutuhkan klub dan tim yang benar-benar layak untuk Milan." ucap Simone.
Secara khusus, Simone juga menyoroti performa bintang asal Portugal, Rafael Leao. Meskipun mengakui talenta sang pemain, Simone mengkritik inkonsistensi yang ditunjukkan sepanjang musim kompetisi berjalan.
"Dia memiliki kualitas yang pantas untuk Milan. Namun dia tidak memiliki kemampuan untuk menampilkannya secara konsisten." kata Simone.
Kondisi ini diperparah dengan hubungan sang pemain yang mulai merenggang dengan para pendukung di stadion. Simone meragukan masa depan Leao di San Siro jika situasi psikologis antara pemain dan suporter tidak segera membaik.
"Kadang-kadang dia bahkan bisa memenangkan pertandingan sendirian, tetapi itu tidak cukup, terlalu sedikit." ujar Simone.
Kualitas individu yang dimiliki Leao dianggap belum memberikan dampak maksimal bagi pencapaian tim secara keseluruhan. Marco Simone merasa kontribusi tersebut masih jauh dari harapan untuk pemain sekaliber bintang utama.
"Dengan kualitas yang dia miliki, dia seharusnya bisa melakukan jauh lebih banyak. Sekarang hubungan dengan para suporter juga semakin memburuk." ucap Simone.
Saat ini, ketegangan antara pemain nomor 10 tersebut dengan para fan menjadi perhatian serius di tengah upaya klub mempertahankan posisi di zona Eropa. Simone melihat ada keretakan yang sulit untuk dipulihkan dalam waktu dekat.
"Saya kesulitan memahami apakah dia masih bisa diberi waktu lagi, hubungan itu tampaknya sudah sangat rusak," ucap Simone.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·