Masyarakat Mulai Selektif Kelola Keuangan Akibat Tekanan Ekonomi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Masyarakat kini mulai menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan pribadi dengan memangkas berbagai pengeluaran non-prioritas. Perubahan pola konsumsi ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi serta kenaikan biaya hidup yang kian terasa.

Seperti dilansir dari Money, fenomena ini terlihat dari peralihan gaya hidup, mulai dari mengurangi intensitas makan di luar hingga memilih transportasi umum untuk menekan ongkos harian. Warga cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok dan menunda belanja yang dianggap tidak mendesak.

Lilis, seorang pekerja swasta, menjelaskan bahwa dirinya kini lebih selektif dalam menentukan pengeluaran, terutama untuk sektor hiburan dan konsumsi di luar rumah.

"Di tengah situasi ekonomi sekarang, lebih ke arah curating, not just cutting sih. Kalau memang lagi pengin jajan ya tetap jalan, tapi sekarang lebih pilih-pilih tempat saja dan lebih mengutamakan pedagang kecil pinggir jalan," ujar Lilis.

Langkah serupa diambil oleh Celia Karenina (30), seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak. Ia memilih untuk memperketat anggaran keluarga dengan memprioritaskan kebutuhan utama dibandingkan kebutuhan tersier.

Celia mengaku telah mengurangi kebiasaan membeli kopi di luar rumah yang sebelumnya rutin ia lakukan. Kini, ia hanya membeli kopi di kedai jika ada ajakan dari teman, setidaknya sebulan sekali.

"Iya, sudah mulai ngurangin. Ngopi sesekali aja kalau diajak teman, mungkin sebulan sekali. Selebihnya bikin kopi sendiri di rumah," kata Celia Karenina.

Pengetatan ikat pinggang ini dilakukan agar stabilitas finansial keluarga tetap terjaga di tengah lonjakan harga kebutuhan hidup. Ia kini lebih selektif dalam membelanjakan uang demi mendahulukan keperluan yang mendesak.

"Dulu lebih sering ngopi dibanding sekarang. Pokoknya sekarang lebih mengetatkan ikat pinggang demi kebutuhan yang lebih prioritas," ujarnya.

Selain menekan pengeluaran konsumtif, penggunaan transportasi massal menjadi opsi ekonomis bagi masyarakat untuk menggantikan kendaraan pribadi atau layanan transportasi daring. Efisiensi biaya bahan bakar dan parkir menjadi pertimbangan utama dalam menyesuaikan anggaran bulanan.

Seorang jurnalis media tersebut juga membagikan pengalamannya yang sudah mengurangi kebiasaan jajan kopi sejak dua tahun lalu. Ia juga lebih sering membawa bekal sendiri saat menuju lokasi liputan untuk menghemat biaya.

Ketergantungan pada transportasi online dinilai semakin membebani keuangan jika dilakukan secara terus-menerus. Biaya perjalanan melalui satu platform aplikasi bahkan bisa menembus angka Rp 1 juta per bulan.

"Menggunakan transportasi umum saja sudah membuat saya berhemat ratusan ribu tiap harinya. Belum lagi, kalau saya juga mengurangi penggunaan ojol dan membawa bekal," kata jurnalis tersebut.

Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian

Situasi ekonomi saat ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dengan Iran dan kebijakan tarif resiprokal. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut mendorong kenaikan harga bahan baku di pasar domestik.

Meskipun demikian, ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang cukup baik. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,6 persen secara tahunan (YoY), meningkat dari periode sebelumnya yang sebesar 5,3 persen.

Namun, pelaku usaha di sektor makanan dan minuman mulai merasakan dampak dari perubahan perilaku belanja ini. Konsumen kini lebih rajin mencari promo, membatasi anggaran rekreasi, hingga lebih teliti dalam memilih produk.

Dampak pada Sektor Bisnis

Penurunan daya beli mulai terlihat pada beberapa sektor usaha. Sebuah gerai es krim waralaba yang sempat populer kini terpantau mengalami penurunan jumlah pengunjung yang signifikan.

Beberapa outlet di lingkungan perumahan bahkan mulai tutup atau tampak sepi pembeli. Hal serupa terjadi pada tempat hiburan seperti waterpark yang hanya ramai saat memasuki masa liburan sekolah atau libur panjang.

"Sudah jarang (yang berkunjung), cuma waktu-waktu tertentu saja, seperti libur sekolah, libur pajang seperti sekarang ini. Kalau untuk anak-anak kelompok sekolah biasanya kita kasih diskon," tutur seorang penjaga waterpark.

Kenaikan harga bahan baku juga menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha kecil. Wina, seorang penjual sarapan, mengaku harus mengganti wadah plastik dengan styrofoam yang dialasi untuk menyiasati biaya produksi yang naik tanpa mengurangi kualitas makanan.

"Seperti harga plastik yang naik, dulu untuk pembungkus makanan saya pakai wadah plastik, sekarang saya memilih wadah styrofoam yang dialasi," kata Wina.

Loyalitas Penikmat Kopi

Meski kondisi ekonomi sedang dinamis, loyalitas konsumen terhadap merek kopi tertentu terpantau masih tinggi. Hal ini terlihat pada kebijakan kenaikan harga yang dilakukan oleh brand Kopi Tuku per 24 April 2026.

Menu Es Kopi Susu Tetangga (KST) mengalami penyesuaian harga dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000. Meskipun harga naik, pelanggan tetap menunjukkan kesetiaan mereka terhadap cita rasa produk tersebut.

"Harga boleh naik, tapi yang penting rasanya jangan berubah," ujar salah satu pelanggan setia Kopi Tuku.

Di sisi lain, ada pula konsumen yang tetap membeli meski mengeluhkan minimnya promo di tengah kenaikan harga yang berulang kali terjadi.

"Sudah harga naik tidak pernah ada promo, sakit hati, tapi tetap beli," lanjut pembeli lainnya.

Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan menentukan prioritas menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan finansial di tengah berbagai kemungkinan dinamika ekonomi yang terjadi sewaktu-waktu.