Sejumlah pelaku usaha di Indonesia mulai mengambil langkah preventif dengan menunda rencana ekspansi bisnis dan melakukan penghematan besar-besaran menyusul merosotnya nilai tukar rupiah hingga melampaui Rp17.500 per dollar Amerika Serikat pada Rabu (13/5/2026). Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas arus kas perusahaan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai kondisi pelemahan mata uang ini sebagai ancaman serius bagi dunia usaha. Menurutnya, fluktuasi ini berdampak langsung pada kenaikan struktur biaya operasional perusahaan secara menyeluruh.
"Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," ujar Shinta kepada Kompas.com.
Dunia usaha saat ini menerapkan prinsip pertumbuhan selektif dengan mengevaluasi setiap rencana investasi berdasarkan efisiensi biaya. Shinta menjelaskan bahwa pengusaha cenderung menghindari proyek yang memiliki ketergantungan tinggi pada faktor eksternal.
"Sementara investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda," tambahnya.
Guna memitigasi risiko lebih lanjut, pengusaha mulai memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging dan menata ulang struktur utang valuta asing. Shinta juga menyebut adanya upaya rasionalisasi belanja modal serta pengalihan penggunaan bahan baku impor ke produk lokal meskipun kapasitas industri domestik masih terbatas.
"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," kata Shinta.
Senada dengan hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat pelemahan rupiah ini telah mengganggu psikologi pasar. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Sarman Simanjorang menyatakan kekhawatiran atas potensi pembengkakan biaya logistik dan produksi.
"Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu diwaspadai," ujar Sarman.
Saat ini pelaku usaha masih berupaya menahan harga di tingkat konsumen melalui berbagai inovasi, termasuk mengurangi ukuran produk demi menghindari kenaikan harga jual secara langsung. Namun, Sarman memperingatkan bahwa daya tahan pengusaha memiliki batas jika tren pelemahan ini terus berlanjut dalam jangka panjang.
"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja," kata Sarman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·