Media: Trump tolak serangan ke Pulau Kharg Iran, takut korban besar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Moskow (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menentang pengiriman pasukan AS ke Pulau Kharg di Iran, karena khawatir akan kemungkinan korban jiwa yang besar, demikian laporan Wall Street Journal dengan mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut.

Sebelumnya pada akhir Maret, Trump menyatakan keinginan untuk merebut minyak dari Iran mengikuti skenario Venezuela.

Ia juga tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa AS akan mencoba merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.

Meskipun Trump yakin bahwa misi tersebut akan berhasil dan bahwa perebutan wilayah tersebut akan memberi AS akses ke selat tersebut, ia khawatir bahwa korban jiwa AS akan sangat besar, kata sumber kepada surat kabar tersebut.

Presiden mengeklaim bahwa pasukan AS akan menjadi sasaran empuk dalam kasus seperti itu, demikian klarifikasi surat kabar tersebut.

Politico sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari 2.000 Marinir telah berangkat ke Timur Tengah dari pangkalan di San Diego.

Banyak pakar mengaitkan hal ini dengan kemungkinan operasi untuk merebut Pulau Kharg.

Kemudian pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang target di Iran, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Pada tanggal 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Pembicaraan selanjutnya di Islamabad berakhir tanpa hasil. Meskipun tidak ada pengumuman dimulainya kembali permusuhan, AS memulai langkah untuk memblokade pelabuhan Iran.

Hal tersebut membuat para mediator berupaya untuk menyelenggarakan putaran pembicaraan baru.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Iran perkuat pertahanan Pulau Kharg hadapi potensi operasi darat AS

Baca juga: AS pertimbangkan serbu Pulau Kharg di Iran, pasukan dikerahkan cepat

Baca juga: Mantan Pejabat AS: pengerahan pasukan ke Pulau Kharg akan jadi bencana

Penerjemah: M Razi Rahman
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.