Memahami Keutamaan dan Tata Cara Sholat Isyroq Pengganti Pahala Haji

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Umat Islam memiliki waktu istimewa di pagi hari untuk meraih keberkahan spiritual yang besar. Salah satu amalan yang dianjurkan setelah menunaikan sholat Subuh adalah tetap duduk berdzikir hingga matahari terbit.

Aktivitas ini biasanya ditutup dengan melaksanakan sholat sunnah Isyroq. Meskipun tidak sepopuler sholat Dhuha, ibadah ini memiliki keistimewaan luar biasa dalam berbagai riwayat hukum Islam.

Dikutip dari Cahaya, sholat Isyroq sering dikaitkan dengan perolehan pahala yang setara dengan ibadah haji dan umrah. Hal ini berlaku bagi muslim yang menjaga dzikir pagi setelah melaksanakan Subuh berjamaah.

Sholat Isyroq merupakan ibadah sunnah dua rakaat yang dikerjakan tepat setelah matahari terbit dan mulai meninggi. Dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa, ibadah ini dijelaskan sebagai bagian dari sholat Dhuha.

Penyebutan Isyroq merujuk pada waktu pelaksanaannya di awal waktu Dhuha. Ibadah ini dilakukan sesaat setelah matahari keluar dari waktu terlarang untuk melaksanakan sholat.

Apabila ibadah serupa dikerjakan saat hari sudah menjelang siang, maka penyebutannya tetap sholat Dhuha. Para ulama fikih memandang Isyroq sebagai amalan pagi yang sangat berkaitan erat dengan rutinitas dzikir pasca Subuh.

Waktu Pelaksanaan yang Tepat

Meskipun dilaksanakan pagi hari, sholat Isyroq dilarang dikerjakan tepat saat matahari muncul di ufuk timur. Terdapat batasan waktu tertentu yang harus diperhatikan oleh setiap umat muslim.

Berdasarkan hadis riwayat Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW melarang umatnya sholat ketika matahari baru terbit hingga ia meninggi. Larangan ini bertujuan untuk menghindari waktu-waktu yang diharamkan untuk beribadah.

Para ulama menjelaskan bahwa waktu Isyroq dimulai sekitar 15 hingga 20 menit setelah matahari terbit. Indikator lainnya adalah ketika posisi matahari sudah naik setinggi satu tombak di langit.

Keutamaan Berdasarkan Hadis

Keistimewaan ibadah ini bersumber dari hadis populer yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Hadis yang dicatat oleh Imam At-Tirmidzi tersebut menjelaskan besarnya ganjaran bagi pelakunya.

"Siapa yang mengerjakan sholat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia sholat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah."

Buku Rahasia Kedahsyatan Shalat Sunah Setahun Penuh menyebutkan bahwa ibadah ini menjadi simbol kesungguhan seorang Muslim. Hal ini mencerminkan upaya menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta sejak awal hari dimulai.

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin turut memberikan penjelasan senada. Beliau menegaskan bahwa Isyroq dan Dhuha sebenarnya berada dalam satu rangkaian ibadah sunnah yang sama, namun dibedakan oleh waktu pelaksanaannya.

Panduan Niat dan Tata Cara

Sebelum memulai ibadah, setiap muslim dianjurkan untuk membaca niat di dalam hati atau melafalkannya secara lisan. Berikut adalah bacaan niat sholat Isyroq:

أُصَلِّى سُنَّةَ الْإِشْرَاقِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: "Aku niat sholat sunnah Isyroq dua rakaat karena Allah Ta’ala."

Tata cara pelaksanaannya secara umum tidak berbeda dengan sholat sunnah dua rakaat lainnya. Urutannya meliputi niat, takbiratul ihram, membaca Surah Al Fatihah, dilanjutkan dengan surah pendek, rukuk, dan i'tidal.

Setelah itu dilakukan sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. Gerakan ini diulang pada rakaat kedua hingga diakhiri dengan tasyahud akhir dan salam secara tertib.

Doa Setelah Sholat Isyroq

Setelah salam, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Salah satu doa perlindungan yang sangat dianjurkan adalah doa yang diriwayatkan dalam hadis Utsman bin Affan.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillaahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’i wa huwas samii’ul ‘aliim.

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi dan langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Banyak kajian ulama menempatkan dzikir ini sebagai bentuk perlindungan spiritual bagi manusia. Rutinitas ini menjadi pengingat agar setiap individu memulai hari dengan sikap tawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.